JAKARTA - Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono menyoroti permasalahan kesehatan mental di Indonesia. Ia mengungkapkan bahwa kesehatan mental kerap kali dinomorduakan dibandingkan dengan kesehatan fisik.
Hal itu diungkapkan Dante dalam kesempatan Temu Media di RS Soeharto Heerdjan, Jakarta Barat pada Jumat (4/9/2026). Ia mengatakan, kesehatan mental sebetulnya sudah menjadi sorotan sejak zaman dahulu. Menurutnya, hal itu dapat dilihat dari RS Soeharto Heerdjan yang berfokus pada kesehatan jiwa dan sudah berdiri selama 104 tahun.
“Bagaimana Pentingnya kesehatan mental itu kadang-kadang dinomor duakan dibandingkan dengan kesehatan fisik,” kata Dante.
Ia menilai, kesehatan mental ini sebetulnya sering kali terjadi di lingkungan sekitar. Mengingat hal tersebut tidak tampak secara fisik.
“Teman-teman lihat orang sebenarnya kelihatan sehat tapi sebetulnya kalau kita evaluasi dia punya masalah. Nggak kelihatan secara fisik, tapi secara mental dia punya masalah. Nah, ini banyak sekali di terjadi di tempat di lingkungan kita sehari-hari,” ucapnya.
Dante menjelaskan, satu dari tujuh orang di dunia hidup dengan gangguan kejiwaan. Angka tersebut lebih besar dibandingkan dengan angka diabetes yang tercatat hanya satu dari delapan orang di dunia. Hal itu tentunya menjadi perhatian, apalagi gangguan kesehatan tidak memandang usia, gender maupun status ekonomi.
Data nasional dan WHO menunjukkan bahwa gangguan kesehatan jiwa sedikit lebih banyak dialami oleh perempuan, yaitu sekitar 14,8 persen, sementara laki-laki berada di angka 13 persen-an. Masalah kejiwaan ini berdampak pada seluruh lini usia, mulai dari anak-anak, remaja, dewasa muda, dewasa, hingga lansia, dengan proporsi berkisar antara 10 persen hingga 17 persen dari populasi di setiap kelompok umur.
“Di tempat kita, berdasarkan data yang sudah kita lihat dan di WHO, itu perempuan sedikit lebih banyak, 14,8. Laki-laki yang mengalami kelainan jiwa itu sekitar 13 koma sekian. Dan grafik yang warna hijau itu menunjukkan kelompok usia: anak, remaja, dewasa muda, dewasa, dan lansia. Kurang lebih angkanya sekitar 10 sampai 17 persen dari populasi itu kalau dibagi kelompok usia mengalami kelainan kejiwaan,” tuturnya.
Maka dari itu, pemerintah menekankan pentingnya menemukan dan mendeteksi gangguan kesehatan jiwa sejak dini. Langkah ini dianggap penting karena penanganan awal dapat meminimalkan risiko percobaan bunuh diri dan memperbaiki kualitas hidup penderita. Selain itu, proses evaluasi juga terus didorong agar dapat menjangkau seluruh sektor.
(Agustina Wulandari )
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.