
Waktu makan juga ternyata berpengaruh. Makan terlalu larut malam dapat membuat lonjakan gula darah lebih tinggi dibandingkan ketika makanan yang sama dikonsumsi lebih awal pada hari yang sama.
Intermittent fasting juga dapat memengaruhi cara tubuh merespons insulin. Ketika seseorang tidak terus-menerus makan atau ngemil, terutama pada malam hari, tubuh memiliki periode yang lebih panjang tanpa asupan makanan.
Kondisi ini dapat membantu meningkatkan sensitivitas insulin dan membuat tubuh lebih baik dalam mengatur gula darah. Hal tersebut penting karena resistensi insulin disebut sebagai salah satu faktor yang berperan dalam proses penuaan otak.
Dengan memperbaiki sensitivitas insulin, proses tersebut berpotensi diperlambat. Namun, bukan berarti semakin lama berpuasa maka semakin baik pula manfaatnya.
Pola makan dan kualitas makanan yang dikonsumsi tetap menjadi bagian penting. Meski memiliki sejumlah manfaat, intermittent fasting tidak dianggap sebagai satu-satunya pola makan terbaik untuk menjaga kesehatan otak.
Untuk mendukung kesehatan otak, pola makan sebaiknya tetap diisi dengan makanan bernutrisi. Beberapa pilihan yang disebut antara lain buah dan sayuran, kacang-kacangan, polong-polongan, ikan berlemak, kenari, minyak zaitun, serta makanan yang kaya antioksidan dan polifenol seperti blueberry dan cokelat hitam.
Sebaliknya, konsumsi daging olahan dan gula tambahan sebaiknya dibatasi. Pola makan seperti MIND, Mediterania, dan DASH juga memiliki bukti observasional yang cukup kuat terkait dengan penuaan kognitif yang lebih lambat dan penurunan risiko Alzheimer.
Dengan demikian, intermittent fasting bisa disebut sebagai strategi tambahan. Namun, intermittent fasting tidak serta-merta mengganti pola makan sehat.
(Djanti Virantika)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.