Meski begitu, keberadaan kuman "tidur" ini bisa terdeteksi melalui pemeriksaan spesifik. Seperti Mantoux test atau tuberkulin test,m serta tes IGRA.
“Jadi semuanya negatif, tidak ada gejala, Rontgen toraksnya juga negatif, dahaknya juga negatif, tapi Mantoux test-nya positif, IGRA-nya juga positif. Jadi Mantoux test dan IGRA-nya menunjukkan bahwa ada rekam jejak kuman di tubuhnya, tapi tidak ada penyakitnya,” tutur Prof. Erlina.
Beda dengan TB Aktif. Menurut Prof. Erlina, TB Aktif memicu berbagai gejala sistemik seperti batuk berpanjangan, demam, keringat malam, hingga penurunan berat badan secara drastis. Foto Rontgen dan tes dahak penderita TB Aktif juga biasanya menunjukkan tanda kelainan infeksi.
“Jadi TB laten: ada kuman, tapi tidak sakit. Berbeda dengan TB aktif. TB aktif itu kumannya aktif berkembang biak, sehingga menimbulkan kerusakan, menimbulkan gejala, ada batuk, ada demam, ada keringat malam, nafsu makan turun, berat badan turun, lesu, letih, lemah, karena kumannya berkembang biak. Ya, dan di foto Rontgen juga terlihat bahwa di paru-parunya ada kelainan. Diperiksa dahak juga biasanya positif kalau TB aktif ini,” katanya.
Lantas, jika seseorang terdiagnosa TB Laten tanpa gejala, apakah ia harus tetap menjalani penanganan medis? Prof. Erlina mengingatkan bahwa kuman TB Laten dapat sewaktu-waktu "bangun" dan berubah menjadi TB Aktif jika kondisi daya tahan tubuh menurun.