JAKARTA - Anggapan bahwa vagina menjadi longgar akibat terlalu sering berhubungan seksual masih banyak beredar. Padahal, elastisitas vagina tidak ditentukan oleh jumlah pasangan atau frekuensi hubungan seksual. Vagina memiliki jaringan yang elastis sehingga dapat meregang saat aktivitas tertentu dan kembali ke kondisi semula.
Perubahan sensasi atau rasa lebih longgar pada vagina lebih mungkin berkaitan dengan kondisi seperti persalinan, pertambahan usia, perubahan hormon, atau melemahnya otot dasar panggul, demikian dilansir dari laman Medical News Today.
Saat mendapat rangsangan seksual, vagina secara alami mengalami perubahan. Jaringan vagina menjadi lebih rileks dan menghasilkan pelumasan sehingga penetrasi dapat berlangsung lebih nyaman.
Setelah aktivitas seksual selesai, jaringan tersebut secara bertahap kembali ke kondisi normal. Karena itu, hubungan seksual tidak terbukti membuat vagina menjadi longgar secara permanen.
Vagina memang dapat terasa lebih terbuka untuk sementara selama dan setelah berhubungan seks. Kondisi ini merupakan respons normal tubuh terhadap rangsangan dan tidak berarti vagina kehilangan elastisitasnya.
Sensasi saat berhubungan seksual juga dapat berbeda pada setiap orang. Faktor seperti posisi seksual, tingkat rangsangan, kondisi tubuh, dan pengalaman dengan pasangan dapat memengaruhi sensasi yang dirasakan.
Salah satu kondisi yang dapat menyebabkan perubahan pada vagina adalah persalinan normal. Saat proses melahirkan, otot dan jaringan di sekitar vagina mengalami peregangan untuk memungkinkan bayi keluar.
Setelah persalinan, jaringan tersebut secara bertahap mengalami pemulihan. Namun, sebagian perempuan mungkin merasakan perubahan pada elastisitas atau sensasi vagina dibandingkan sebelum melahirkan.
Proses pemulihan dapat berlangsung berbeda pada setiap orang. Cedera atau peregangan pada jaringan, kulit, dan otot dasar panggul selama persalinan juga dapat memengaruhi sensasi di area vagina.
Dalam beberapa kasus, perempuan dapat mengalami berkurangnya sensasi saat berhubungan seksual setelah melahirkan. Kondisi ini tidak selalu permanen dan dapat membaik seiring proses pemulihan tubuh.
Pertambahan usia juga dapat memengaruhi elastisitas jaringan tubuh, termasuk jaringan di sekitar vagina. Otot secara alami dapat menjadi kurang kuat seiring waktu.
Perubahan hormon juga berperan, terutama ketika memasuki perimenopause dan menopause. Penurunan kadar estrogen dapat membuat jaringan vagina menjadi lebih tipis, kering, dan kurang elastis.
Akibatnya, hubungan seksual pada sebagian perempuan dapat terasa berbeda atau menimbulkan rasa tidak nyaman. Berkurangnya pelumasan alami juga dapat membuat penetrasi terasa lebih nyeri.
Penggunaan pelumas dapat membantu mengurangi rasa tidak nyaman saat berhubungan seksual. Jika keluhan terus berlangsung, sebaiknya konsultasikan dengan dokter untuk mengetahui penyebab dan pilihan penanganan yang sesuai.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.