PERCERAIAN atau perpisahan pasangan tidak otomatis membuat seseorang berhenti menjadi orangtua. Hubungan sebagai suami dan istri mungkin telah berakhir, tetapi peran sebagai ayah dan ibu tetap berjalan. Di sinilah co-parenting menjadi penting.
Co-parenting adalah pola pengasuhan ketika dua orangtua yang sudah tidak lagi hidup sebagai pasangan tetap bekerja sama dalam membesarkan anak. Tujuannya bukan untuk mengembalikan hubungan seperti semula, melainkan memastikan anak tetap mendapatkan perhatian, kasih sayang, rasa aman, dan dukungan dari kedua orangtuanya.
Lantas, seperti apa co-parenting baik yang harus dibangun oleh orangtua yang berpisah? Psikolog klinis dewasa, Hersa Aranti, dalam acara Morning Zone di Youtube Okezone memberikan kiat-kiatnya.
Salah satu pertanyaan yang kerap muncul setelah perceraian adalah apakah kedua orangtua harus kembali akur agar bisa menjalankan co-parenting dengan baik. Jawabannya, tidak selalu.
Hersa menjelaskan bahwa co-parenting tidak mengharuskan mantan pasangan kembali memiliki hubungan yang sangat dekat. Artinya, pasangan yang sudah berpisah tidak perlu memaksakan diri untuk terlihat sangat akrab di depan anak jika memang hubungan tersebut belum memungkinkan. Yang lebih penting adalah bagaimana keduanya mampu membangun kerja sama yang sehat sebagai orangtua.
Layaknya sebuah tim, kedua orangtua tidak harus menjadi sahabat. Namun, mereka perlu memiliki tujuan yang sama dalam menjalankan peran sebagai ayah dan ibu.
“Co-parenting itu kan adalah teamwork. Dan teamwork itu untuk bekerja kan enggak harus yang akhirnya benar-benar sobat banget, jadi akur gitu. Itu enggak harus kayak gitu,” ujar Hersa.
Untuk menjalani co-parenting yang baik, Hersa mengatakan bahwa orangtua juga perlu memiliki kesepakatan yang sama. Kunci dari co-parenting adalah adanya tujuan bersama.
Tujuan tersebut dapat dimulai dari kesepakatan sederhana. Misalnya, memastikan anak tetap mendapatkan kasih sayang dari kedua orangtua, tetap merasa aman, serta tidak menjadi korban konflik setelah perceraian.
Kedua orangtua juga dapat menyepakati berbagai hal yang berkaitan dengan pengasuhan, mulai dari pendidikan, kesehatan, jadwal bersama anak, hingga cara mengambil keputusan ketika muncul persoalan. Tidak berarti seluruh aturan di kedua rumah harus selalu sama. Namun, adanya nilai dan tujuan dasar yang disepakati akan membantu anak beradaptasi dengan kondisi keluarga yang baru.
“Teamwork itu akan bekerja saat akhirnya keduanya memiliki tujuan yang sama, punya visi-misi yang sama,” ucap Hersa.

Perceraian mengubah hubungan antara dua orang dewasa, tetapi tidak seharusnya menghilangkan peran salah satu orang tua dalam kehidupan anak. Kehadiran ayah dan ibu tetap penting, baik secara fisik maupun emosional.
Anak perlu mengetahui bahwa meskipun orangtuanya sudah tidak tinggal bersama, keduanya tetap hadir dan peduli terhadap kehidupannya. Hersa menekankan pentingnya memberikan pesan tersebut kepada anak.
Kehadiran ini dapat diwujudkan melalui berbagai hal, seperti meluangkan waktu bersama anak, terlibat dalam pendidikan dan kegiatan anak, serta tetap memberikan dukungan ketika anak sedang menghadapi masalah.
“Kita tujuannya adalah memperlihatkan pada anak bahwa kita berdua masih hadir nih, masih equally hadir meskipun kita sudah tinggal berpisah,” jelas Hersa.
Hal lain yang penting dalam co-parenting adalah tidak menjadikan anak sebagai perantara atau pihak yang harus memilih salah satu orang tua. Ketika terjadi persoalan antara mantan pasangan, pembicaraan sebaiknya dilakukan langsung oleh orang dewasa.
Anak tidak perlu diminta menyampaikan pesan, menjadi penengah, atau mendengar berbagai persoalan yang sebenarnya merupakan konflik antara kedua orang tuanya. Begitu pula dengan kebiasaan menjelekkan mantan pasangan di depan anak.
Perasaan marah atau kecewa setelah perceraian merupakan hal yang mungkin terjadi, tetapi anak sebaiknya tidak dibebani dengan konflik tersebut. Hubungan sebagai pasangan dan hubungan sebagai orangtua perlu dipisahkan.
Co-parenting juga berarti memberikan ruang bagi anak untuk menyampaikan perasaan dan kebutuhannya. Anak mungkin memiliki preferensi berbeda mengenai waktu bersama ayah atau ibu.
Ada kalanya anak sedang merasa nyaman bersama salah satu orang tua, membutuhkan waktu untuk beradaptasi, atau merasa tidak nyaman dengan situasi tertentu. Hal tersebut perlu didengarkan dan dipertimbangkan.
Mendengarkan anak bukan berarti semua keinginannya harus selalu dituruti. Namun, perasaan dan kebutuhannya perlu dipertimbangkan dalam setiap keputusan pengasuhan.
“Untuk memprioritaskan misalnya keinginan anak, kalau anak hari ini lagi maunya apa, anak lagi nyaman atau enggak sama ayah atau ibunya, itu juga oke,” tutur Hersa.
Co-parenting yang sehat tidak selalu terlihat seperti dua mantan pasangan yang kembali menjadi sahabat. Ada pasangan yang setelah bercerai tetap bisa berteman dan berkomunikasi dengan sangat baik.
Namun, ada pula yang membutuhkan batasan lebih jelas dan hanya berkomunikasi mengenai hal-hal yang berkaitan dengan anak. Keduanya tetap dapat menjalankan co-parenting selama komunikasi berjalan dengan baik, kesepakatan dijalankan, dan kepentingan anak menjadi prioritas.
Karena itu, tidak perlu memaksakan bentuk hubungan tertentu hanya agar terlihat harmonis di depan anak. Yang lebih penting adalah menciptakan hubungan yang stabil, aman, dan minim konflik.
“Selama akhirnya ada tujuan bersama yang sudah disepakati, itu yang akhirnya balik lagi akan membuat teamwork itu bekerja,” tutup Hersa.
(Djanti Virantika)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.