Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Gagal Ginjal Bisa Sembuh? Dokter Ungkap Batas 3 Bulan dan Cara Mendeteksinya Sejak Dini

Djanti Virantika , Jurnalis-Selasa, 25 Agustus 2026 |21:05 WIB
Gagal Ginjal Bisa Sembuh? Dokter Ungkap Batas 3 Bulan dan Cara Mendeteksinya Sejak Dini
Gagal ginjal. (Foto: Freepik)
A
A
A

ISTILAH gagal ginjal mungkin terdengar menakutkan bagi banyak orang. Namun, kondisi tersebut tidak selalu berarti fungsi ginjal langsung hilang secara permanen. Penurunan fungsi ginjal dapat terjadi sementara maupun berlangsung dalam jangka panjang.

Hal tersebut dijelaskan oleh seorang dokter dalam sebuah perbincangan mengenai kesehatan ginjal. Menurutnya, secara sederhana gagal ginjal berkaitan dengan adanya penurunan fungsi ginjal.

1. Apa Itu Gagal Ginjal?

Dokter Spesialis Penyakit Dalam, dr. Rosandi Himawan, Sp.PD, dalam acara Morning Zone di Youtube Okezone mengatakan bahwa ginjal memiliki berbagai fungsi penting bagi tubuh. Organ tersebut berperan membuang sisa-sisa metabolisme, menjaga keseimbangan elektrolit, membantu mengatur tekanan darah, serta menjalankan fungsi lainnya.

Ketika fungsi ginjal mengalami penurunan, berbagai gangguan yang berkaitan dengan fungsi tersebut dapat muncul. Namun, kondisi penurunan fungsi ginjal perlu dilihat berdasarkan perjalanan waktunya.

dr. Rosandi menjelaskan bahwa penurunan fungsi ginjal dapat bersifat sementara ataupun kronis dan permanen. Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah perkembangan kondisi tersebut dalam kurun waktu tiga bulan.

Sebaliknya, apabila setelah tiga bulan fungsi ginjal tetap mengalami gangguan atau justru terus menurun, kondisi tersebut dapat mengarah pada gangguan ginjal kronis. Artinya, seseorang yang mengalami penurunan fungsi ginjal tidak selalu berarti akan mengalami kerusakan permanen. Kondisi dan penyebabnya tetap perlu diperiksa serta dipantau oleh tenaga medis.

“Kalau definisi gagal ginjal itu kan berarti ada penurunan fungsi ginjal. Nah ginjal sendiri kan fungsinya untuk banyak hal nih. Ada metabolisme, membuang sisa-sisa metabolisme tubuh, keseimbangan elektrolit, tekanan darah, dan lainnya,” ujar dr. Rosandi.

“Ketika ketika terjadi penurunan fungsi, pastinya gejala-gejala terkait fungsi ginjal akan muncul.  Cuma memang penurunan fungsi ginjal ini bisa bersifat sementara atau bersifat kronis dan permanen,” lanjutnya.

“Batasannya itu 3 bulan. Kalau dalam 3 bulan itu terjadi perbaikan fungsi ginjal, maka biasanya bisa membaik. Tapi kalau dalam 3 bulan fungsi ginjalnya ternyata menetap, menurun terus, nah berarti itu yang disebut sebagai gagal ginjal yang kronis, begitu,” jelas dr. Rosandi.

2. Gangguan Ginjal Sering Tidak Bergejala di Awal

Salah satu tantangan dalam mendeteksi penyakit ginjal adalah gejalanya yang kerap tidak muncul pada tahap awal. dr. Rosandi menyebut, penurunan fungsi ginjal pada fase awal sering kali tidak menimbulkan keluhan yang khas. Karena itu, seseorang bisa saja mengalami gangguan fungsi ginjal tanpa menyadarinya.

Gejala biasanya lebih mungkin muncul ketika gangguan fungsi ginjal sudah cukup berat. Beberapa keluhan yang dapat dirasakan antara lain mual, muntah, tubuh terasa lemas, gatal-gatal, hingga penurunan jumlah urine.

Kondisi tersebut menjadi alasan mengapa pemeriksaan kesehatan secara berkala penting dilakukan. Utamanya bagi orang yang memiliki faktor risiko gangguan ginjal.

“Jadi kalau untuk deteksi fungsi ginjal, ini penting karena secara klinis, kadang itu penurunan fungsi ginjal di awal sering kali enggak ada gejalanya di awal gitu,” jelas dr. Rosandi.

“Cuma kalau memang gejala fungsi ginjal sudah berat, seperti rasa mual, muntah, lemas, gatal-gatal, penurunan jari jumlah kencing, itu bisa muncul,” sambungnya.

 

3. Bisa Dideteksi Lewat Pemeriksaan Sederhana

Gagal Ginjal

Untuk mengetahui kondisi fungsi ginjal, pemeriksaan dapat dilakukan melalui beberapa tahap. Salah satunya adalah pemeriksaan dasar seperti tekanan darah. Menurut dokter, gangguan fungsi ginjal dapat berkaitan dengan meningkatnya tekanan darah.

Selain itu, pemeriksaan fisik juga dapat membantu menemukan tanda-tanda tertentu, seperti pembengkakan pada kaki maupun wajah. Pemeriksaan penunjang kemudian dapat dilakukan untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas mengenai kondisi ginjal.

Salah satu pemeriksaan yang cukup sederhana adalah tes urine. Dalam pemeriksaan tersebut, dr. Rosandi dapat melihat apakah terdapat kebocoran protein di dalam urine.

“Kalau kita bicara soal deteksi sebenarnya pemeriksaan deteksi fungsi ginjal itu sangat bisa dilakukan. Dari pemeriksaan screening, misalnya tekanan darah. Nah tekanan darah itu pada gangguan fungsi ginjal biasanya akan naik,” tutur dr. Rosandi.

“Kemudian pemeriksaan fisik, misalnya kakinya bengkak atau enggak, mukanya bengkak atau enggak, itu biasanya dari pemeriksaan fisik ya. Kemudian kalau pemeriksaan lab atau penunjang, yang paling sederhana kita pemeriksaan urine. Nah pemeriksaan urine itu sebenarnya bisa menggambarkan apakah fungsi ginjal kita itu bagus atau enggak. Biasanya yang dilihat itu adakah kebocoran protein di dalam urine. Kalau ada kebocoran protein di dalam urine, nah itu dicurigai bakal fungsi ginjalnya bisa mengalami gangguan,” sambungnya.

“Nah kemudian yang paling sederhana juga dilakukan pemeriksaan darah. Pemeriksaan darah ini nanti diperiksa namanya urium dan kreatinin. Ini adalah 2 hal parameter yang bisa untuk melihat deteksi apakah kita mempunyai gangguan fungsi ginjal atau enggak,” tutupnya.

(Djanti Virantika)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement