JAKARTA — Sakit kepala yang terasa seperti kepala terikat atau ditekan kerap muncul ketika tubuh mengalami ketegangan. Sebelum mengonsumsi obat pereda nyeri, ada beberapa cara sederhana yang dapat dicoba untuk membantu tubuh lebih rileks, salah satunya melalui teknik pernapasan dan relaksasi.
Dokter sekaligus influencer kesehatan, dr. Cecep Hermawan, membagikan teknik relaksasi mandiri yang disebut vagal release melalui unggahan video di akun Instagram miliknya. Teknik tersebut ditujukan untuk membantu meredakan keluhan sakit kepala yang berkaitan dengan ketegangan.
"POV ngasih tahu yang lagi pusing/sakit kepala kayak diikat kencang. Sebelum buru-buru minum obat, coba cara ini dulu. Kepala rasanya berat, kaku, dan seperti diikat kencang? Itu tanda klasik Tension Type Headache (TTH)," ujar dr. Cecep, dikutip Sabtu (21/8/2026).
Menurut dia, salah satu bagian tubuh yang dapat diberi stimulasi adalah telinga. Area konka atau cekungan di bagian tengah daun telinga serta tragus, yakni tonjolan di depan saluran telinga, memiliki cabang saraf yang berkaitan dengan saraf vagus.
Saraf vagus berperan dalam sistem saraf parasimpatis yang berkaitan dengan kondisi tubuh saat beristirahat dan melakukan pemulihan.
"Kenapa harus jewer telinga? Area konka (cekungan di tengah daun telinga) dan tragus itu jalur saraf Vagus (Auricular Branch) saklar utama sistem parasimpatis (mode 'istirahat dan pulihkan' tubuh)," jelasnya.
Dr. Cecep mengatakan stimulasi pada area tersebut memiliki dasar dari penelitian mengenai transcutaneous auricular vagus nerve stimulation (taVNS). Meski demikian, ia menjelaskan bahwa stimulasi manual tidak memiliki kekuatan yang sama dengan perangkat listrik yang digunakan dalam prosedur medis.
"Riset stimulasi elektrik di titik ini (taVNS) terbukti turunkan detak jantung dan redakan nyeri. Tarikan lembut manual di area yang sama menyasar saraf yang sama, walau efeknya memang tidak sekuat alat elektrik makanya digabung sama napas lambat (4-7-8) yang sudah lebih dulu terbukti kuat aktifkan mode relaksasi tubuh," paparnya.
Untuk melakukan teknik tersebut, ia menyarankan menjepit atau memegang bagian tragus secara lembut. Setelah itu, tarik napas melalui hidung selama empat detik, tahan selama tujuh detik, kemudian tarik atau regangkan daun telinga secara perlahan ke arah luar dan bawah sambil mengembuskan napas melalui mulut selama delapan detik.
Rangkaian tersebut dapat dilakukan selama sekitar lima menit atau sampai tubuh terasa lebih rileks dan ketegangan berkurang.
Selain memberikan stimulasi pada area telinga, dr. Cecep menyarankan pemijatan ringan pada bagian belakang leher. Area yang menjadi sasaran adalah otot suboccipital, yang berada di sekitar perbatasan antara bagian belakang leher dan dasar tengkorak.
"Pijat suboccipital. Tekan dan putar lembut area lekukan di perbatasan leher belakang dan tengkorak selama satu menit. Titik ini sering jadi trigger point utama penyebab TTH," tuturnya.
Setelah melakukan teknik relaksasi tersebut, ia juga mengingatkan pentingnya mencukupi kebutuhan cairan. Ia menyarankan minum satu hingga dua gelas air putih bersuhu ruang.
"Hidrasi, minum 1-2 gelas air putih suhu ruang setelah terapi ini—tubuh yang cukup cairan bikin otot lebih gampang rileks," tambahnya.
Namun, dr. Cecep mengingatkan bahwa sakit kepala tidak selalu dapat ditangani dengan teknik relaksasi mandiri. Jika muncul tanda-tanda tertentu, seseorang perlu segera mendapatkan pemeriksaan medis.
"Kapan harus ke dokter? Jika sakit kepala mendadak sangat hebat (thunderclap), demam tinggi, kaku kuduk, pandangan kabur, atau bicara pelo," pungkasnya.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.