Dr. Cecep mengatakan stimulasi pada area tersebut memiliki dasar dari penelitian mengenai transcutaneous auricular vagus nerve stimulation (taVNS). Meski demikian, ia menjelaskan bahwa stimulasi manual tidak memiliki kekuatan yang sama dengan perangkat listrik yang digunakan dalam prosedur medis.
"Riset stimulasi elektrik di titik ini (taVNS) terbukti turunkan detak jantung dan redakan nyeri. Tarikan lembut manual di area yang sama menyasar saraf yang sama, walau efeknya memang tidak sekuat alat elektrik makanya digabung sama napas lambat (4-7-8) yang sudah lebih dulu terbukti kuat aktifkan mode relaksasi tubuh," paparnya.
Untuk melakukan teknik tersebut, ia menyarankan menjepit atau memegang bagian tragus secara lembut. Setelah itu, tarik napas melalui hidung selama empat detik, tahan selama tujuh detik, kemudian tarik atau regangkan daun telinga secara perlahan ke arah luar dan bawah sambil mengembuskan napas melalui mulut selama delapan detik.
Rangkaian tersebut dapat dilakukan selama sekitar lima menit atau sampai tubuh terasa lebih rileks dan ketegangan berkurang.
Selain memberikan stimulasi pada area telinga, dr. Cecep menyarankan pemijatan ringan pada bagian belakang leher. Area yang menjadi sasaran adalah otot suboccipital, yang berada di sekitar perbatasan antara bagian belakang leher dan dasar tengkorak.
"Pijat suboccipital. Tekan dan putar lembut area lekukan di perbatasan leher belakang dan tengkorak selama satu menit. Titik ini sering jadi trigger point utama penyebab TTH," tuturnya.