JAKARTA — Momentum perayaan Kemerdekaan Republik Indonesia pada bulan Agustus selalu identik dengan pesta rakyat dan semangat kebebasan. Namun, di balik riuhnya perayaan, dokter sekaligus influencer kesehatan, Gia Pratama justru mengajak masyarakat untuk melupakan sejenak selebrasi seremonial dan berani mengajukan satu pertanyaan krusial kepada diri sendiri.
Sudahkah tubuh kita benar-benar merdeka dari ancaman penyakit?
Menurut dr. Gia, fenomena kesehatan saat ini menunjukkan pergeseran yang cukup mengkhawatirkan. Penyakit Tidak Menular (PTM) seperti hipertensi atau tekanan darah tinggi kini tak lagi didominasi oleh kelompok usia lanjut.
Semakin banyak masyarakat di usia produktif yang tanpa disadari sudah mengidap masalah kesehatan serius tersebut, meskipun secara fisik mereka masih merasa prima dan beraktivitas normal.
“Teman-teman tahu enggak, sekarang makin banyak orang di usia produktif yang sudah mengalami hipertensi. Bahkan ketika masih merasa muda, masih aktif, dan sehari-hari kelihatannya sehat,” ujar dr. Gia dalam unggahan video di akun Instagramnya, dikutip Senin (17/8/2026).
Dokter Gia menyoroti bagaimana penyakit kronis seperti hipertensi, lonjakan gula darah, hingga risiko mematikan seperti serangan jantung dan stroke jarang terjadi secara mendadak. Sebaliknya, kondisi ini merupakan akumulasi dari kebiasaan harian yang sering kali dianggap sepele. Mulai dari pola makan, kurang bergerak hingga kebiasaan menunda untuk membenahi gaya hidup.
Maka dari itu, di momen Agustus ini, ia mengajak semua masyarakat untuk menjadikannya sebagai titik balik merdeka dari berbagai potensi penyakit.
“Bulan Agustus ini, kita merayakan kemerdekaan Indonesia. Tapi coba tanya satu hal ke diri sendiri. Tubuh kita sudah merdeka dari cengkeraman penyakit belum? Merdeka dari tekanan darah tinggi, merdeka dari gula darah yang terus naik, merdeka dari risiko serangan jantung dan stroke?” tuturnya.
“Karena penyakit-penyakit ini sering terbentuk pelan-pelan dari apa yang kita makan tiap hari, seberapa banyak kita bergerak, dan bagaimana kita tidur, sampai kebiasaan kecil yang terus kita tunda untuk kita perbaiki,” kata dr. Gia.
Lebih lanjut, ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak terburu-buru tergiur oleh tren diet viral yang menjamur di media sosial. Sering kali, tren konsumsi tersebut tidak didasari oleh kecukupan gizi yang dibutuhkan tubuh secara individu dan sulit dipertahankan dalam jangka panjang.
Kunci utama dari tubuh yang sehat dan merdeka, menurutnya, adalah kestabilan dan kesesuaian gizi harian yang terukur serta realistis untuk dijalani sebagai gaya hidup permanen.
“Nah, kalau mau mulai hidup lebih sehat, jangan sekadar ikut diet yang sedang viral. Pola makan yang baik adalah yang sesuai dengan kebutuhan tubuh, yang gizinya cukup, yang porsinya terukur, dan sanggup kita jalani dalam jangka panjang,” tutur dr. Gia.
Menurutnya, menjaga kesehatan bukan sekadar upaya medis, melainkan sebuah bentuk perjuangan personal. Merdekanya tubuh dari pola hidup buruk adalah investasi paling bernilai yang bisa diberikan seseorang untuk masa depannya.
“Di bulan kemerdekaan ini, ayo kita perjuangkan satu kemerdekaan lagi. Merdekakan tubuh dari kebiasaan yang perlahan-lahan membuat kita sakit. Jangan tunggu sakit untuk memulai hidup sehat, karena sehat adalah salah satu bentuk kemerdekaan yang paling berharga,” ucap dr. Gia.
(Agustina Wulandari )
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.