CEK Kesehatan Gratis menemukan jutaan warga Indonesia mengidap hipertensi, diabetes, hingga kolesterol tinggi tanpa mereka sadari. Kini tantangannya bukan lagi menemukan penyakit, tetapi memastikan masyarakat mau mengobatinya.
Suatu pagi, seseorang bangun seperti biasa. Ia berangkat bekerja, mengantar anak sekolah, bahkan masih sempat bermain bulu tangkis bersama teman-temannya di akhir pekan. Tidak ada keluhan berarti. Tidak ada rasa sakit. Tubuh terasa baik-baik saja.

Namun ketika mengikuti Program Cek Kesehatan Gratis (CKG), hasil pemeriksaan menunjukkan tekanan darahnya jauh di atas normal. Gula darahnya pun mulai meningkat.
Ia termasuk orang yang selama ini merasa sehat, padahal penyakit perlahan berkembang di dalam tubuhnya.
Melalui evaluasi Program Cek Kesehatan Gratis hingga 31 Juli 2026, Kementerian Kesehatan menemukan jutaan masyarakat Indonesia hidup berdampingan dengan penyakit yang sering disebut silent killer. Penyakit yang berkembang tanpa gejala, tetapi berujung pada stroke, serangan jantung, hingga gagal ginjal.

Wakil Menteri Kesehatan RI, Prof. dr. Dante Saksono Harbuwono, Sp.PD-KEMD, Ph.D mengatakan, banyak orang baru mengetahui dirinya mengidap penyakit setelah kondisinya sudah cukup berat.
“Orang hipertensi enggak tahu kalau dia hipertensi. Orang diabetes enggak tahu kalau dia diabetes,” ujarnya.
Menurut Prof. Dante, fenomena itu terlihat dalam sebuah studi di Jakarta. Dari setiap delapan orang, satu di antaranya menderita diabetes.
Ironisnya, lebih banyak orang yang tidak sadar dirinya mengidap diabetes dibanding mereka yang sudah mengetahui diagnosisnya. Bagi Kementerian Kesehatan, temuan tersebut menjadi alasan mengapa Program Cek Kesehatan Gratis tidak boleh berhenti hanya pada pemeriksaan.
Sementara itu, Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mengakui fokus pemerintah kini mulai bergeser. Jika tahun sebelumnya perhatian utama adalah memperluas cakupan pemeriksaan kesehatan, maka tahun ini pemerintah mulai memastikan masyarakat yang terdeteksi sakit benar-benar mendapatkan pengobatan.
“Tahun lalu kita fokusnya ke ngeceknya. Tahun ini kita fokus mulai tata laksananya, pengobatannya, perawatannya,” kata Budi.
Pemerintah memprioritaskan tiga kondisi kesehatan, yakni hipertensi, diabetes, dan kolesterol tinggi. Alasannya sederhana, ketiga penyakit tersebut menjadi pintu masuk berbagai penyakit mematikan yang selama ini menjadi penyebab kematian terbesar masyarakat Indonesia.
“Kalau tiga ini bisa kita kendalikan, penyakit stroke, jantung, ginjal, tiga dari empat penyakit pembunuh utama itu bisa kita kurangi,” ujarnya.
Target akhirnya bukan sekadar menambah jumlah masyarakat yang diperiksa, tetapi meningkatkan usia harapan hidup masyarakat Indonesia hingga 76 tahun pada 2029.
Sebagai informasi, data Cek Kesehatan Gratis menunjukkan betapa besarnya tantangan kesehatan masyarakat Indonesia. Hingga akhir Juli 2026, sebanyak 73 juta orang telah mengikuti pemeriksaan kesehatan.
Angka ini bahkan melampaui capaian sepanjang tahun sebelumnya. Dari puluhan juta peserta tersebut ditemukan:
- 4,9 juta orang mengalami hipertensi
- 5,5 juta berada pada kondisi prehipertensi
- Hampir 1 juta orang terdiagnosis diabetes
- 1,9 juta lainnya berada pada fase prediabetes
- Sekitar 11 juta orang mengalami obesitas
- Ratusan ribu peserta juga ditemukan memiliki gangguan lemak darah atau dislipidemia.