"Masalahnya, partikel pigmen itu terlalu besar dan terlalu awet untuk benar-benar dicerna. Jadi ketika makrofag yang menelannya akhirnya mati, pigmen tadi terlepas lagi ke jaringan sekitar," ungkap dr. Adam.
Siklus ini tidak berhenti di situ. Saat pigmen terlepas dari sel yang mati, generasi makrofag baru akan datang dan kembali menelan pigmen yang sama. Proses ini terus berulang secara terus-menerus di bawah lapisan kulit.
"Jadi intinya, tato 'permanen' itu sebenarnya hasil dari relay makrofag yang terus-menerus menangkap ulang pigmen yang dilepas oleh makrofag sebelumnya, bukan karena tinta menempel statis di kulit," katanya.
Di balik keunikan mekanisme biologis tersebut, dr. Adam juga mengingatkan adanya potensi risiko kesehatan dari penumpukan pigmen jangka panjang. Akumulasi pigmen di dalam jaringan tubuh berpotensi mempengaruhi fungsi kekebalan tubuh.
"Yang menarik, beberapa riset terbaru menemukan bahwa penumpukan pigmen jangka panjang ini berpotensi mengganggu fungsi imun normal, termasuk respons terhadap vaksin tertentu, dan juga dikaitkan dengan peningkatan risiko limfoma (kanker kelenjar getah bening) serta kanker kulit," pungkas dr. Adam.
(Agustina Wulandari )
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.