Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Mengenal BLW, Metode MPASI yang Bikin Bayi Belajar Makan Mandiri

Niko Prayoga , Jurnalis-Sabtu, 18 Juli 2026 |18:05 WIB
Mengenal BLW, Metode MPASI yang Bikin Bayi Belajar Makan Mandiri
Anak makan sendiri. (Foto: Freepik)
A
A
A

TREN metode pemberian makanan pendamping (MPASI) pada anak kian beragam. Salah satu yang populer di kalangan orangtua adalah metode Baby Led Weaning (BLW) atau bayi dibiarkan makan sendiri tanpa disuapi.

Lantas, apa itu BLW? Apakah metode ini wajib diterapkan langsung oleh orangtua kepada bayi yang sedang menerapkan MPASI?

Ilustrasi MPASI. (Foto: Freepik)

1. Mengenal BLW

Belakangan sering terjadi kesalahpahaman di masyarakat. Banyak orangtua mengira anak mereka sedang menerapkan BLW hanya karena tiba-tiba menolak disuapi di tengah masa MPASI.

Dokter Spesialis Anak, dr. Lucky Yoga Satria, dalam unggahan video di akun Instagramnya mengatakan, fenomena anak yang mendadak menolak disuapi saat fase MPASI berjalan bukanlah metode BLW. Ini  melainkan bagian dari penerapan aturan pemberian makan atau feeding rules.

“Oke dari kemarin sebetulnya banyak yang salah ngira masalah tentang BLW. Ada yang bilang bahwa, 'Kok anak saya udah enggak mau disuapin, Dok, maunya BLW?'”

“Itu salah. Konsepnya gini, BLW itu adalah Baby Lead Weaning, artinya anaknya yang mengarahkan bagaimana cara makan. Nah, itu konsepnya berarti anaknya tidak diberikan suapan dari awal. Jadi dari awal mulai makan, itu anaknya sudah makan sendiri, megang langsung finger food,” kata dr. Lucky.

2. BLW Tidak Direkomendasikan Secara Medis

dr. Lucky menuturkan metode BLW sebenarnya tidak direkomendasikan secara medis. Ada beberapa alasan kuat mengapa para ahli kesehatan anak cenderung menghindari metode ini, mulai dari risiko tersedak hingga ancaman malnutrisi.

Menurutnya, tidak semua jenis makanan, terutama sumber protein esensial yang teksturnya lebih padat, bisa disajikan dalam bentuk makanan yang mudah digenggam langsung oleh bayi (finger food).

“BLW ini sebenarnya tidak direkomendasikan, karena tidak semuanya protein itu bisa di-BLW-kan. Jadi lebih sering anaknya kekurangan zat besi, lebih sering anaknya tersedak dan lebih sering nggak tercukupi kebutuhan nutrisinya," tutur dia.

 

3. Beda BLW dan Anak Menolak Disuapi

Ilustrasi MPASI. (Foto: Prostooleh/Freepik)

Lebih lanjut, dr. Lucky menjelaskan bahwa perbedaan mendasar antara BLW dan kondisi anak menolak disuapi setelah sempat terbiasa disuapi. Kondisi menolak disuapi di tengah jalan tersebut justru termasuk dalam indikator keberhasilan feeding rules, khususnya konsep responsive feeding (pemberian makan secara responsif).

Seiring bertambahnya usia, kemampuan motorik bayi seperti menggenggam dan memasukkan benda ke mulut akan berkembang pesat. Ketika kemampuan itu meningkat, bayi secara alami memiliki dorongan untuk mempraktekkannya secara mandiri saat makan.

"Kenapa didorong untuk makan sendiri? Karena kemampuan makan itu akan meningkat. Ketika enam bulan baru mulai makan, mungkin anaknya belum siap untuk makan sendiri. Megang masih susah, masukin ke dalam mulut masih susah, maka dibantu dengan suap,” ujar dr. Lucky.

“Tapi kan kemampuannya meningkat, makin lama dia makin jago. Ketika anaknya sudah bisa megang makanan, masukin ke dalam mulut, maka pasti itu kemampuannya itu pengen digunain sama anaknya. Anaknya pengen megang sendiri, orang tuanya malah masih maksa buat nyuapin, anaknya akan nolak," lanjutnya.

Maka dari itu, ketika anak mulai menolak sendok dari orangtua, hal tersebut bukanlah tanda anak ingin beralih ke BLW. Ia juga mengingatkan para orangtua untuk tidak panik atau justru melarang ketika anak mulai menunjukkan keinginan untuk makan mandiri.

Respons terbaik orangtua adalah memberikan ruang bagi anak untuk melatih kemampuan motoriknya. Meskipun, prosesnya akan membuat area makan menjadi kotor atau berantakan.

“Salah satunya feeding rules itu adalah dorong anak untuk makan sendiri. Tapi itu bukan BLW, itu namanya feeding rules, responsive feeding,” jelas dr. Lucky.

“BLW dari awal enggak pernah disuapin. Jadi lihat nih, kalau anaknya udah bisa nyobain megang-megang makanan, maka kasih kesempatan. Berantakan ya nggak apa-apa, ya namanya juga belajar. Ingat, kemampuan anak harus diasah, harus diberikan kesempatan," pungkas dia.

(Djanti Virantika)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement