JAKARTA – Air minum isi ulang menjadi pilihan banyak keluarga karena dinilai lebih praktis dan ekonomis. Namun, masyarakat tetap perlu waspada. Air yang terkontaminasi bakteri tidak hanya berisiko menyebabkan gangguan pencernaan, tetapi juga dapat meningkatkan risiko stunting pada anak jika dikonsumsi dalam jangka panjang.
Dokter sekaligus influencer kesehatan, dr. Adam Prabata, menyoroti temuan tersebut melalui unggahan di akun Threads miliknya. Ia menjelaskan bahwa air yang tercemar bakteri memiliki kaitan dengan meningkatnya risiko stunting pada anak.
"Penelitian terbaru! Air yang terkontaminasi bakteri ternyata berhubungan dengan peningkatan risiko stunting hingga empat kali lebih tinggi!" tulis dr. Adam, dikutip Senin (13/7/2026).
Menurutnya, salah satu indikator utama untuk mengetahui apakah air isi ulang aman dikonsumsi adalah keberadaan bakteri coliform. Bakteri ini menjadi penanda penting adanya kontaminasi pada air.
Di Indonesia, kualitas air dari depot isi ulang masih sangat beragam. Berdasarkan puluhan penelitian mikrobiologi yang dilakukan di berbagai kota, tingkat kontaminasi bakteri menunjukkan hasil yang bervariasi.
"Berdasarkan penelitian, angka kontaminasi bakteri pada air isi ulang di Indonesia sangat bervariasi, dari sangat kecil hingga 30 persen!" ujarnya.
Meski demikian, dr. Adam menggarisbawahi bahwa hasil penelitian tersebut belum dapat digeneralisasi secara nasional.
"Meskipun ada penelitian dengan hasil yang baik, belum ada penelitian nasional yang benar-benar mewakili kondisi depot air isi ulang di Indonesia secara keseluruhan," tambahnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa dalam jangka pendek, mengonsumsi air yang terkontaminasi bakteri coliform dapat memicu gangguan pencernaan, seperti diare, nyeri perut, mual, hingga muntah. Risiko tersebut akan lebih tinggi pada kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia, serta orang dengan daya tahan tubuh yang lemah.
Namun, dampak yang lebih mengkhawatirkan muncul jika air yang terkontaminasi dikonsumsi secara terus-menerus. Bakteri yang masuk ke dalam tubuh anak dapat menyebabkan peradangan kronis pada saluran pencernaan sehingga mengganggu penyerapan nutrisi.
"Penelitian menunjukkan bahwa air yang terkontaminasi bakteri awalnya dapat menyebabkan mual, muntah, dan diare akut. Namun, bila terus-menerus dikonsumsi, terutama pada anak, dapat menyebabkan peradangan usus berkepanjangan hingga mengganggu penyerapan nutrisi. Kondisi ini dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan dan perkembangan pada anak yang berujung pada stunting," jelasnya.
Karena itu, dr. Adam mengimbau masyarakat agar lebih selektif dalam memilih depot air minum isi ulang. Menurutnya, kualitas air sangat dipengaruhi oleh standar operasional depot, mulai dari perawatan filter, kebersihan galon, proses disinfeksi, hingga kebersihan petugas.
"Yang menarik adalah, salah satu penentu adanya kontaminasi pada air isi ulang ialah kualitas operasional depot air minum isi ulangnya, mulai dari perawatan filter, kebersihan galon, proses disinfeksi, hingga kebersihan petugas. Semakin baik operasionalnya, semakin rendah pula risiko kontaminasi air isi ulang," pungkasnya.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.