
Mi instan umumnya mengandung kadar natrium atau garam yang cukup tinggi. Jika dikonsumsi terlalu sering, asupan garam berlebih dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi atau hipertensi.
Selain itu, mi instan cenderung rendah serat dan tidak selalu memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh apabila dikonsumsi tanpa tambahan sumber protein dan sayuran. Kebiasaan makan mi instan terlalu sering juga dapat membuat pola makan menjadi kurang seimbang karena tubuh lebih banyak mendapatkan kalori dari karbohidrat dan lemak, tetapi kekurangan vitamin, mineral, serta serat.
Bagi yang tetap ingin menikmati mi instan, dr. Rosandi menyarankan agar frekuensinya dibatasi. Menurutnya, makan mi instan seminggu sekali masih tergolong cukup sering jika dilakukan terus-menerus. Dr. Rosandi juga mengingatkan pentingnya mengimbangi konsumsi makanan tinggi kalori dengan aktivitas fisik.
“Itu kayak cheating day. Jadi kalau seminggu sekali sih menurut saya frekuensinya masih cukup sering,” ujar dr. Rosandi.
“Jadi kalau mau cheating day gitu paling enggak sebulan sekali tapi habis makan yang gitu kayaknya harus kejar olahraganya harus lebih banyak,” tutupnya.
(Djanti Virantika)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.