Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Riset: 2 dari 5 Orang Kardiovaskular Berisiko Alami Serangan Jantung dan Stroke

Kurniasih Miftakhul Jannah , Jurnalis-Kamis, 02 Juli 2026 |19:01 WIB
Riset: 2 dari 5 Orang Kardiovaskular Berisiko Alami Serangan Jantung dan Stroke
Penyakit jantung tidak hanya dipengaruhi oleh kadar kolesterol, tekanan darah, atau gula darah yang tinggi (Foto: Freepik)
A
A
A

JAKARTA – Penyakit jantung tidak hanya dipengaruhi oleh kadar kolesterol, tekanan darah, atau gula darah yang tinggi. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa inflamasi atau peradangan pada pembuluh darah juga menjadi faktor penting yang dapat meningkatkan risiko serangan jantung hingga stroke, meski pasien telah menjalani pengobatan sesuai standar.

Temuan tersebut berasal dari studi POSEIDON yang dilakukan Novo Nordisk melibatkan 18.904 pasien di 18 negara selama periode 2023–2025. Penelitian ini menemukan bahwa sekitar dua dari lima pasien penyakit kardiovaskular aterosklerotik (PKVA) yang juga mengalami penyakit ginjal kronis (CKD) memiliki inflamasi kardiovaskular. Kondisi serupa juga ditemukan pada dua dari lima pasien gagal jantung.

Apa Itu Inflamasi Kardiovaskular?

Inflamasi kardiovaskular merupakan peradangan yang terjadi pada pembuluh darah. Berbeda dengan peradangan akibat infeksi yang biasanya disertai demam atau nyeri, inflamasi pada pembuluh darah sering kali tidak menimbulkan gejala sehingga kerap tidak disadari.

Padahal, apabila berlangsung dalam jangka panjang, kondisi ini dapat merusak pembuluh darah dan meningkatkan risiko terjadinya serangan jantung, stroke, hingga komplikasi penyakit jantung lainnya.

Dalam studi tersebut, inflamasi diukur melalui pemeriksaan darah high-sensitivity C-reactive protein (hsCRP). Kadar hsCRP sebesar 2 mg/L atau lebih menunjukkan adanya inflamasi kardiovaskular yang berpotensi meningkatkan risiko penyakit.

Risiko Masih Tinggi Meski Sudah Diobati

Hasil penelitian menunjukkan bahwa banyak pasien masih memiliki inflamasi pembuluh darah meski telah mendapatkan terapi untuk mengontrol kolesterol, tekanan darah, maupun gula darah sesuai pedoman medis.

Artinya, pengobatan standar memang penting untuk mengendalikan faktor risiko utama, tetapi belum sepenuhnya menghilangkan risiko yang berasal dari proses peradangan di dalam tubuh.

Para peneliti menilai kondisi ini menjadi salah satu alasan mengapa sebagian pasien masih mengalami serangan jantung atau stroke meskipun telah rutin menjalani pengobatan.

Mengapa Inflamasi Berbahaya?

Peradangan kronis pada pembuluh darah berperan dalam pembentukan plak aterosklerosis, yaitu penumpukan lemak yang dapat menyumbat aliran darah.

Selain meningkatkan risiko penyakit jantung koroner, inflamasi juga berkaitan dengan perkembangan penyakit ginjal kronis. Bahkan, kedua kondisi tersebut dapat saling memperburuk sehingga membentuk siklus yang meningkatkan risiko komplikasi kardiovaskular.

Pada pasien gagal jantung, inflamasi juga ditemukan cukup tinggi, terutama pada mereka yang memiliki obesitas, gangguan ginjal, atau penyakit metabolik lainnya.

Penyakit Jantung Masih Jadi Penyebab Kematian Terbesar

Di Indonesia, penyakit kardiovaskular masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan sekitar 30 persen kematian di Tanah Air berkaitan dengan penyakit kardiovaskular, termasuk stroke dan penyakit jantung iskemik.

Karena itu, para ahli menilai pencegahan penyakit jantung tidak cukup hanya dengan mengontrol kolesterol atau tekanan darah, tetapi juga perlu memperhatikan faktor inflamasi yang dapat meningkatkan risiko komplikasi.

Cara Menurunkan Risiko Penyakit Kardiovaskular

Meskipun inflamasi tidak selalu dapat dirasakan, beberapa langkah berikut dapat membantu menjaga kesehatan jantung dan pembuluh darah:

  • Menjaga pola makan bergizi seimbang dengan memperbanyak buah, sayur, dan biji-bijian.
  • Berolahraga secara rutin minimal 150 menit per minggu.
  • Menjaga berat badan ideal.
  • Mengontrol tekanan darah, gula darah, dan kolesterol secara berkala.
  • Berhenti merokok serta membatasi konsumsi alkohol.

Rutin berkonsultasi dengan dokter, terutama bagi penderita penyakit jantung, diabetes, atau penyakit ginjal kronis.

Penelitian ini menunjukkan bahwa memahami peran inflamasi dalam penyakit jantung dapat membantu tenaga medis mengidentifikasi pasien dengan risiko tinggi sejak dini. Ke depan, pemeriksaan biomarker seperti hsCRP diperkirakan akan semakin berperan dalam membantu menentukan strategi pencegahan dan penanganan penyakit kardiovaskular secara lebih komprehensif.

(Kurniasih Miftakhul Jannah)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement