Meski demikian, Dante menyebut bahwa masyarakat tidak perlu panik secara berlebihan. Dari seluruh temuan nodul tersebut, hanya sekitar 1 hingga 5 persen yang berkembang menjadi kanker atau mengalami keganasan.
Terkait upaya pencegahan, Dante menegaskan bahwa pemerintah tidak merekomendasikan skrining kanker tiroid secara massal pada kelompok asimtomatik (tanpa gejala). Kebijakan ini diambil karena skrining yang tidak tepat sasaran berisiko menyebabkan overdiagnosis, overtreatment, overmorbidity serta membengkaknya biaya pelayanan kesehatan (excess healthcare cost).
"Kanker tiroid hanya didiagnosis pada dua populasi, yakni populasi yang mempunyai risiko tinggi dan populasi yang mempunyai simptom," tegasnya.
Meski secara data statistik agregat terlihat bahwa kanker tiroid lebih banyak ditemukan pada perempuan, Dante menekankan pentingnya memahami faktor risiko yang sebenarnya, di mana laki-laki dengan benjolan memiliki kerentanan lebih besar terhadap keganasan.
(Djanti Virantika)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.