Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Ternyata Ini Alasan Lansia Harus Bahagia!

Niko Prayoga , Jurnalis-Sabtu, 13 Juni 2026 |16:00 WIB
Ternyata Ini Alasan Lansia Harus Bahagia!
Ilustrasi lansia harus bahagia. (Foto: dok Freepik/jcomp)
A
A
A

JAKARTA - Menjaga kesehatan bagi kaum lansia (lanjut usia) merupakan satu hal yang sangat penting untuk dilakukan, mengingat di fase tersebut seseorang mudah terserang penyakit akibat penurunan kekebalan tubuh. Namun, kesehatan yang perlu dijaga bukan hanya kesehatan fisik tapi juga kesehatan mental dan kebahagiaan.

Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes dr. Imran Pambudi mengatakan, faktor kebahagiaan dinilai menjadi kunci utama untuk mencegah percepatan berbagai penyakit kronis di usia senja. Apalagi, kondisi psikologis lansia berpengaruh langsung terhadap respons biologis tubuh. Stres atau ketidakbahagiaan dapat memicu penurunan fungsi organ secara drastis.

"Kita perlu menyampaikan bahwa lansia itu harus bahagia. Karena kalau nggak bahagia tubuh kita juga akan meresponnya negatif. Sel-sel tubuh kita juga akan merespon negatif, sehingga akan muncul penyakit-penyakit degeneratif secara lebih cepat," kata dr. Imran saat diwawancarai usai Puncak Hari Lanjut Usia 2026, Sabtu (13/6/2026).

Menurutnya, dampak dari respons negatif sel tubuh tersebut tidak bisa diremehkan. Sebab, kondisi tersebut bisa menyebabkan berbagai gangguan penyakit mulai dari risiko kanker hingga gangguan pada sistem kardiovaskular akibat pengentalan darah.

"Kanker, kemudian penyakit tidak menular, darah kita akan lebih kental ya sehingga akan lebih memudahkan kita kena sakit jantung, hipertensi dan lain-lain," ucapnya.

Maka dari itu, pemeliharaan kesehatan terhadap lansia tidak bisa hanya dilakukan dari satu sisi, melainkan harus secara holistik. Salah satunya dengan memadukan antara kesehatan fisik dengan mental. 

dr. Imran menuturkan, ada beberapa aktivitas fisik yang disarankan untuk lansia. Aktivitas itu cukup sederhana dan tidak menguras energi secara berlebihan, seperti berjalan kaki secara rutin untuk menjaga kebugaran jantung.

"Jadi intinya kita selain tadi aktivitas fisik ya juga harus bahagia. Aktivitas fisik ini yang kami perlu sampaikan adalah tidak usah terlalu berat sebetulnya. Minimal jalan 30 menit sehari, seminggu minimal lima kali untuk bisa menjaga tubuh kita, jantungnya lebih sehat," tutur dr. Imran.

Selain aktivitas aerobik seperti jalan kaki, aktivitas fisik dengan tipe kekuatan juga disarankan untuk dilakukan oleh para lansia. Contohnya, seperti olahraga angkat beban sederhana sesuai dengan porsi kemampuan dan kekuatan yang dimiliki. Hal itu didasari oleh fakta fisiologis bahwa massa otot manusia akan mengalami penurunan secara alami seiring bertambahnya usia.

"Dan yang kedua ternyata angkat beban. Nah, kenapa? Karena ternyata secara fisiologis sejak usia kita 30 tahun otot kita itu berkurang. Nah, kalau kita berkurang kekuatan kita lemah akhirnya juga tidak bisa menopang badan dengan baik," ucapnya.

dr. Imran menjelaskan, jika massa dan kekuatan otot menyusut, beban tubuh sepenuhnya akan bertumpu pada tulang. Kondisi inilah yang memicu terjadinya pengeroposan tulang atau osteoporosis pada lansia.

Kendati demikian, lansia tidak dituntut untuk melakukan olahraga berat seperti binaragawan, melainkan cukup dengan beban ringan yang disesuaikan dengan kemampuan tubuh.

"Yang menopang hanya tulang sehingga akhirnya nanti kena osteoporosis ya dan lain-lain. Jadi kita harus ada angkat beban. Tidak usah beban barbel yang ratusan kilo jauh usah gitu ya," tutur dr. Imran.

(Agustina Wulandari )

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement