JAKARTA - Kesulitan keuangan ternyata tidak hanya berdampak pada kondisi mental, tetapi juga dapat memengaruhi kesehatan jantung. Sebuah penelitian terbaru menemukan bahwa tekanan finansial dan ketidakpastian akses pangan berpotensi mempercepat penuaan jantung, bahkan setara atau lebih besar dibanding sejumlah faktor risiko penyakit kardiovaskular yang selama ini dikenal.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Mayo Clinic Proceedings mengungkap bahwa stres akibat masalah keuangan dapat mempercepat proses penuaan sistem kardiovaskular. Temuan ini menambah bukti bahwa kondisi sosial dan ekonomi seseorang turut berperan dalam menentukan kesehatan fisik, khususnya kesehatan jantung.
Dalam studi tersebut, para peneliti menganalisis data lebih dari 280.000 orang dewasa yang mengikuti survei mengenai kondisi sosial dan ekonomi mereka serta menjalani pemeriksaan kesehatan kardiovaskular. Alih-alih hanya melihat risiko penyakit jantung, penelitian ini berfokus pada konsep usia kardiovaskular, yakni ukuran biologis yang menunjukkan seberapa tua kondisi jantung dan pembuluh darah seseorang dibandingkan usia sebenarnya.
Hasilnya menunjukkan bahwa individu yang mengalami tekanan finansial tinggi atau kesulitan mendapatkan makanan bergizi cenderung memiliki usia kardiovaskular yang lebih tua. Temuan ini tetap terlihat meskipun faktor risiko medis seperti hipertensi, diabetes, dan kebiasaan merokok telah diperhitungkan.
Menurut Profesor di Universitas George Washington, Dr. Leana Wen, dua orang dengan usia dan kondisi kesehatan yang serupa bisa memiliki tingkat penuaan jantung yang berbeda tergantung besarnya tekanan ekonomi yang mereka alami.
Dr. Wen menjelaskan bahwa stres kronis dapat memicu berbagai perubahan biologis yang berdampak pada sistem kardiovaskular. Saat seseorang terus-menerus mengalami tekanan, tubuh akan menghasilkan hormon stres seperti kortisol dan adrenalin dalam jumlah tinggi.
Peningkatan hormon tersebut dapat memengaruhi tekanan darah, denyut jantung, peradangan, hingga metabolisme tubuh. Jika berlangsung dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah dan jantung, sehingga mempercepat proses penuaan organ tersebut.
Penuaan jantung yang dimaksud mencakup berbagai perubahan, seperti pengerasan pembuluh darah, penurunan fungsi otot jantung, dan berkurangnya kemampuan sistem kardiovaskular dalam merespons aktivitas fisik.
Berbeda dengan stres jangka pendek, tekanan finansial sering kali berlangsung lama dan sulit dihindari. Kekhawatiran mengenai tagihan, biaya hidup, utang, kebutuhan keluarga, hingga akses terhadap layanan kesehatan dapat menjadi sumber stres yang terus menerus.
Kondisi tersebut juga dapat memengaruhi kebiasaan hidup seseorang. Orang yang mengalami kesulitan ekonomi cenderung memiliki kualitas tidur yang lebih buruk, akses terbatas terhadap makanan sehat, lebih jarang berolahraga, dan kesulitan memperoleh layanan kesehatan yang memadai.
Kombinasi berbagai faktor tersebut dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dari waktu ke waktu.
Salah satu temuan yang paling menarik dalam penelitian ini adalah besarnya pengaruh tekanan finansial terhadap kesehatan jantung. Hubungannya dinilai sebanding, bahkan dalam beberapa kasus lebih besar dibanding faktor risiko klasik seperti tekanan darah tinggi, diabetes, dan merokok.
Meski demikian, para ahli menegaskan bahwa tekanan finansial bukan satu-satunya penyebab penyakit jantung. Faktor ini bekerja bersama berbagai faktor risiko lain sehingga dapat memperbesar kemungkinan seseorang mengalami gangguan kardiovaskular.
Peneliti menekankan bahwa mengalami tekanan ekonomi bukan berarti seseorang pasti akan terkena penyakit jantung. Risiko kesehatan tetap dapat ditekan melalui berbagai langkah pencegahan.
Menjaga pola makan sehat, rutin berolahraga, tidak merokok, menjaga berat badan ideal, serta mengontrol tekanan darah, kolesterol, dan gula darah tetap menjadi cara utama untuk melindungi kesehatan jantung.
Selain itu, mengelola stres juga penting. Aktivitas seperti meditasi, mindfulness, menjaga kualitas tidur, dan memperkuat hubungan sosial dapat membantu mengurangi dampak stres kronis terhadap tubuh.
Temuan ini memperkuat pandangan bahwa kesehatan seseorang tidak hanya dipengaruhi oleh layanan medis yang diterima, tetapi juga oleh kondisi sosial dan ekonomi yang dihadapi sehari-hari.
Para ahli menilai tenaga kesehatan perlu mempertimbangkan faktor-faktor seperti tekanan finansial dan ketidakamanan pangan saat menilai risiko penyakit jantung pasien. Dengan begitu, pendekatan penanganan kesehatan dapat menjadi lebih menyeluruh dan sesuai dengan kondisi yang dihadapi setiap individu.
Penelitian ini sekaligus menjadi pengingat bahwa kesejahteraan ekonomi dan kesehatan fisik memiliki keterkaitan yang erat. Ketika tekanan hidup meningkat, dampaknya tidak hanya dirasakan secara mental, tetapi juga dapat memengaruhi organ vital seperti jantung.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.