DEMAM pada anak sering membuat orang tua panik, apalagi jika suhu tubuhnya terus meningkat. Namun, sebenarnya bukan hanya angka suhu yang perlu diperhatikan.
Ada beberapa gejala lain yang justru bisa menjadi tanda kondisi lebih serius dan membutuhkan penanganan medis segera. Karena itu, orangtua penting untuk mengenali tanda bahaya saat anak demam agar tidak terlambat membawa si kecil ke dokter.

Dokter spesialis anak sekaligus influencer kesehatan anak, dr. Lucky Yogasatria dalam unggahan video di akun Instagram pribadinya mengatakan, orangtua terkadang panik dan overthinking saat anak demam. Banyak orangtua yang menginginkan suhu tubuh anak turins secara cepat agar demam cepat hilang.
“Saya tahu anak demam begitu termometer menunjukkan 38,5, 39,5, 40, kepala Ibu langsung ramai. Harus turun sekarang, nanti kejang atau enggak, ini bahaya atau enggak? Sini-sini, dengerin dulu biar parenting-nya enggak over tinggi,” kata dr. Lucky, dikutip Rabu (27/5/2026).
dr. Lucky menyebut, suhu tubuh yang tinggi saat anak demam bukan menjadi indikator utama penyakit yang dirasakan. Namun, demam bisa menjadi indikator respon tubuh anak terhadap sesuatu penyakit seperti infeksi virus dan lain sebagainya.
“Sebenarnya demam itu adalah alarm tubuh. Tanda bahwa tubuh itu sedang merespon sesuatu. Bisa kena infeksi virus, bisa kena batuk pilek, radang tenggorokan, HFMD, DBD, ISK, atau penyebab lainnya,” ucap dia.
dr. Lucky menjelaskan bahwa saat anak demam bukan alarm tubuh atau suhu badan yang diutamakan untuk turun. Namun, apa penyebab dari demam itu yang harus diselidiki oleh para orangtua.
Maka dari itu, pemberian obat demam juga seharusnya diberikan ketika anak mengalami demam dengan kondisi lainnya seperti tidak nyaman, rewel, susah makan dan minum atau nafas yang terasa sesak.
“Obat demam itu diberikan terutama kalau anaknya tidak nyaman, rewel sekali, nyeri, sulit istirahat atau jadi sulit minum. Nah, kalau demamnya membuat anak tetap bisa minum, masih responsif, nafasnya nyaman dan tidak tanda bahaya lainnya, kita bisa lebih tenang sambil observasi,” jelas dr. Lucky.
Lebih lanjut, ia menyarankan agar orangtua bisa mengobservasi apa penyebab dari demam yang dialami anak. Hal itu bisa dilihat dari beberapa gejala dan kondisi yang dirasakan anak. Berbagai gejala itu bisa menjadi indikator apakah kita perlu membawa anak kita untuk berobat kepada dokter atau hanya cukup dengan obat saja.
Beberapa gejala yang perlu diperhatikan di antaranya seperti lemas, sulit bangun, sesak, muntah, susah makan dan minum, air seni yang berkurang, kejang serta pendarahan.

“Tapi kalau demamnya disertai dengan anak sangat lemas Sulit dibangunkan, sesak, muntah berulang, tidak mau minum, pipisnya sangat berkurang, kejang, pendarahan atau tampak memburuk, itu bukan alarm biasa yang ditunggu,” tutur dia.
Saat anak mengalami berbagai gejala di atas, alangkah baiknya orang tua langsung memeriksakan kondisi anaknya ke dokter. Hal tersebut dilakukan guna mengetahui apa sebenarnya yang menjadi penyebab demam pada anak.
Sebab, demam hanyalah indikator atau alarm alami tubuh saat merespon sebuah sesuatu. Sehingga, perlu ada pemeriksaan lebih lanjut jika berbagai gejala di atas mulai dirasakan anak saat demam.
“Itu perlu diperiksa. Jadi, saat anak demam jangan cuma bertanya suhunya berapa, tanya juga anaknya bagaimana,” pungkas dia.
(Djanti Virantika)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.