
Bagi Sabrina, egg freezing bukan hanya prosedur medis, tetapi juga simbol dari kontrol atas pilihan hidup. Ia menegaskan bahwa setiap perempuan memiliki timeline yang berbeda dalam menjalani kehidupan, baik dalam karier, pernikahan, maupun rencana memiliki anak.
“Nggak pernah nyangka ini bakalan terjadi kegiatan harianku selama di New York di usia 33. Kalau ngomongin perubahan hidup rasanya hidupku tuh kayak udah di luar prediksi BMKG, mulai dari tiba-tiba summer school, tiba-tiba pindah ke New York, dan sekarang tiba-tiba egg freezing,” tulis Sabrina di Instagram.
“Dan juju raja, tadinya aku agak enggan sih untuk certain semua ini di social media. Tapi, visi misi terbesarku dalam bersocial media salah satunya ya empowering woman,” lanjutnya.
“Dan pastinya di egg freezing journey aku ini nggak cuman share ke kalian informasi tentang egg freezingnya sendiri, tapi dari journey ini aku juga pengen jadi pengingat buat kita semua kalau timeline orang berbeda, bukan berarti mereka terlambat,” jelas Sabrina.
Keputusannya menjalani egg freezing juga mencerminkan semakin terbukanya generasi muda terhadap teknologi kesehatan reproduksi sebagai bagian dari perencanaan masa depan. Prosedur ini memungkinkan perempuan untuk menyimpan sel telur yang kemudian dapat digunakan di masa mendatang melalui proses fertilisasi in vitro (IVF).
(Djanti Virantika)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.