Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Mengenal 2 Jenis Hantavirus: Andes Virus dan Seoul Virus, Mana Lebih Berbahaya?

Djanti Virantika , Jurnalis-Sabtu, 16 Mei 2026 |12:05 WIB
Mengenal 2 Jenis Hantavirus: Andes Virus dan Seoul Virus, Mana Lebih Berbahaya?
Mengenal 2 jenis Hantavirus. (Foto: Freepik)
A
A
A

KASUS Hantavirus kembali menjadi sorotan global setelah munculnya klaster infeksi di sebuah kapal pesiar internasional, yakni MV Hondius, yang berangkat dari wilayah Amerika Selatan. Wabah ini memicu perhatian karena dikaitkan dengan Andes virus, salah satu jenis Hantavirus yang diketahui memiliki tingkat keparahan tinggi dan potensi penularan antarmanusia secara terbatas.

Menarik kini mengetahui lebih jauh soal varian dari Hantavirus. Dengan begitu, varian yang lebih berbahaya pun bisa diketahui.

Asal Mula Hantavirus, Virus Lama yang Kini Kembali Merebak

1. Mengenal Varian Hantavirus

Dr Dicky Budiman PhD yang merupakan Epidemiologist and Expert in Global Health Security from Griffith and Yarsi University dalam acara Morning Zone di Youtube Okezone menjelaskan varian pada Hantavirus. Menurutnya, Hantavirus merupakan kelompok virus yang ditularkan melalui hewan pengerat, terutama tikus, dan memiliki beberapa jenis dengan karakteristik yang berbeda.

Dua di antaranya yang paling sering dibahas adalah Andes Virus dan Seoul Virus, yang sama-sama berada dalam keluarga Hantavirus. Namun, ada tingkat bahaya, pola penularan, serta wilayah sebaran yang berbeda dari dua varian ini.

“Ada beberapa jenis (Hantavirus) yang saat ini di dunia, lebih dikenal ada 2. Kalau yang di kapal pesiar itu Andes Virus masih keturunan Hantavirus,” ujar Dr. Dicky.

2. Apa Itu Andes Virus?

Andes Virus tergolong lebih berbahaya dibandingkan jenis lainnya karena memiliki potensi penularan antarmanusia, meskipun masih terbatas. Andes virus banyak ditemukan di Amerika Selatan, terutama di Chile dan Argentina.

Virus ini dapat menyebabkan gangguan serius pada sistem pernapasan. Termasuk dalam hal ini, kerusakan paru-paru, hingga komplikasi pada jantung yang berujung pada gagal napas akut.

Kemampuan penularan antarmanusia inilah yang membuat Andes Virus dianggap lebih berisiko dalam situasi tertentu. Meskipun, kasusnya tidak sebanyak jenis lain.

“Kenapa Andes Virus ini dikenal? Karena punya karakteristik ditemukannya di Amerika Selatan, terutama di Chile dan Argentina, dia (Andes Virus) juga bisa menyebabkan gangguan di paru-paru, bahkan potensi ke jantung, gagal napas akut. Juga termasuk angka kematiannya bisa 40-50 persen. Jadi dari 10 (kasus), 4 atau 5 orang akan meninggal,” ujar Dr Dicky.

“Nah yang membuat Andes Virus ini unik karena ada bukti potensi penularan antar manusia, meskipun itu terbatas. Makanya, yang terjadi di kapal pesiar itu, jadi di dalam konteks ini, hanya Andes Virus ini yang punya perbedaan kemampuan menularkan antarmanusia,” lanjutnya.

3. Seoul Virus Lebih Sering Ditemui

Apakah Hantavirus Bisa Jadi Pandemi Jilid 2 seperti Covid-19? Ini Penjelasan Dokter

Berbeda dengan Andes, Seoul Virus lebih banyak ditemukan di kawasan Asia, termasuk China, Korea, hingga Indonesia. Virus ini umumnya dibawa oleh tikus perkotaan yang hidup di lingkungan padat, seperti saluran air, gudang, hingga area dengan sanitasi buruk.

“Ada satu lagi yang ini juga selain di China, di Korea, dan beberapa negara Asia lain, termasuk Indonesia, namanya Seoul Virus masih keluarga Hantavirus,” ujar Dr Dicky.

“Nah karakteristik dari Seoul Virus ini, dia umumnya di tikus-tikus perkotaan. Ini adanya di Lorong-lorong gelap, di rumah-rumah, nah makanya tidak boleh ada lubang-lubang. Makanya tikus-tikus itu suka tempat yang gelap-gelap,” lanjutnya.

Di Indonesia, Seoul Virus dianggap lebih relevan. Pasalnya, kondisi lingkungan perkotaan yang masih memiliki tantangan sanitasi. Meski demikian, tingkat kematian Seoul Virus disebut lebih rendah dibandingkan Andes Virus.

“Nah di Indonesia, tipe Seoul Virus lebih relevan karena urbanisasi. Kita sekarang sudah banyak orang, apalagi daerah perkumuhan, sampah kurang tertata baik, padat penduduk, sanitasi buruk, nah ini populasi tikus perkotaan ini akan meningkat. Nah ini yang berpotensi kalau kita kontak secara langsung atau tidak langsung, itu bisa menyebabkan demam, potensi gangguan ginjal juga, dan juga yang disebut dengan hemorrhagic fever jadi gelaja seperti demam berdarah,” jelasnya.

“Tapi angka kematiannya umumnya lebih rendah ketimbang Andes tadi. Ini umumnya di angka belasan. Ini juga ditemukan oleh Kemenkes di angka 13-an persen angka kematiannya,” lanjut Dr Dicky.

 

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement