JAKARTA - Penggunaan AI dalam kehidupan sehari-hari kini makin masif, termasuk di lingkup perusahaan. Namun, di balik kemudahan yang ditawarkan, terdapat risiko yang jarang disadari, yaitu meningkatnya ancaman keamanan.
Vice President & Managing Director for ASEAN Palo Alto Networks, Haji Munshi, menyebut penggunaan AI saat ini berkembang sangat cepat.
“Sekarang bukan lagi soal pakai AI atau tidak, tapi berapa banyak AI yang kamu pakai,” ujarnya dalam acara Ignite on Tour Jakarta 2026 di Hotel Raffles Jakarta, Rabu (22/4/2026).
Banyak orang kini memiliki lebih dari satu asisten digital. Namun, tidak semua penggunaan AI tersebut terkontrol.
Di lingkungan kerja, misalnya, banyak karyawan menggunakan AI tanpa sepengetahuan atau persetujuan perusahaan. Fenomena ini dikenal sebagai shadow AI.
Secara sederhana, kondisi ini mirip seperti kebiasaan memasang aplikasi kerja tanpa izin kantor. Bedanya, saat ini skalanya jauh lebih besar dan risikonya pun lebih serius.
Dampaknya, jika informasi perusahaan dimasukkan ke dalam platform AI yang tidak jelas keamanannya, potensi kebocoran data menjadi semakin besar. Terlebih, saat ini satu individu bisa terhubung dengan banyak sistem, mulai dari akun, aplikasi, hingga agen AI.
Dalam dunia perusahaan, jumlah sistem ini bahkan bisa puluhan kali lipat dibanding jumlah manusia. Sayangnya, sebagian besar serangan siber justru berawal dari celah seperti ini.
Meski begitu, hal ini bukan berarti AI menjadi sesuatu yang harus dihindari. Penggunaannya tetap aman selama dilakukan dengan bijak dan terkontrol.
Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan:
AI memang mempermudah hidup. Namun, teknologi ini tetap membutuhkan kontrol dan kesadaran pengguna. Di era digital saat ini, bukan hanya keterampilan digital yang penting, tetapi juga aspek keamanannya.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.