JAKARTA - Anak-anak memang sudah bisa mulai belajar berpuasa sejak usia dini. Namun, kesiapan menjalani puasa tidak hanya ditentukan oleh umur, melainkan juga kondisi fisik, status gizi, hingga kesiapan psikologis.
Ahli gizi Ihda Hanifatun Nisa menjelaskan, secara medis tidak ada batas usia baku bagi anak untuk mulai berpuasa. Meski begitu, dari sisi fisiologi dan kebutuhan gizi, anak usia 4–7 tahun sebaiknya hanya belajar puasa secara bertahap dengan durasi terbatas. Sementara puasa penuh dinilai lebih aman dilakukan saat usia sekolah dasar akhir, sekitar 7–11 tahun. "Ketika cadangan energi dan kemampuan regulasi gula darah sudah lebih matang," ujarnya, kepada iNews Media Group, Rabu (4/3/2026).
Menurutnya, kesiapan anak tidak semata-mata dilihat dari usia. Anak dengan status gizi baik, tidak memiliki penyakit kronis, mampu makan sahur dengan cukup, serta siap secara mental cenderung lebih mampu menjalani puasa. Kemampuan anak dalam mengomunikasikan rasa haus, lemas, atau keluhan lain juga menjadi indikator penting.
Orangtua pun perlu jeli memantau respons fisik dan perilaku anak selama berpuasa. Jika anak tetap aktif, tidak lemas berlebihan, mampu berkonsentrasi dengan baik, dan warna urinnya tidak pekat, maka kondisinya relatif aman.