Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Masih Beredar, Galon Tua Ancam Kesehatan Konsumen dengan Zat Kimia Berbahaya

Agustina Wulandari , Jurnalis-Senin, 09 Februari 2026 |10:11 WIB
Masih Beredar, Galon Tua Ancam Kesehatan Konsumen dengan Zat Kimia Berbahaya
Ilustrasi galon air minum guna ulang yang sudah tua. (Foto: dok Unsplash/Jude Wilson)
A
A
A

JAKARTA – Galon air minum guna ulang yang tak layak pakai masih sering ditemukan di pasaran, khususnya Jabodetabek. Tentu saja kondisi ini bukan lagi menjadi hal wajar, karena memicu kekhawatiran akan larutnya zat kimia berbahaya yang biasa dikenal dengan BPA. 

Terbaru, Komunitas Konsumen Indonesia (KKI) menemukan fakta bahwa galon yang telah berusia 13 tahun masih dijual bebas kepada konsumen di Bogor. 

Bahkan, secara total, data temuan KKI mengungkap lebih dari 57 persen galon yang beredar di Jabodetabek sudah berusia lebih dari dua tahun. Menurut para ahli usia tersebut jelas telah melampaui batas aman. 

Tak hanya usia yang melampaui batas aman, kondisi isi semakin parah dengan adanya 8 dari 10 galon yang dijual sudah tampak kusam. Ini menjadi tanda bahwa kemasan galon tersebut telah rusak dan berisiko melepaskan zat kimia berbahaya.

Ketua KKI, David Tobing, mengungkapkan bahwa temuan ini menunjukkan adanya masalah yang lebih besar. “Dari investigasi kami di 60 kios di Jabodetabek, 57 persen galon yang beredar berusia di atas dua tahun. Bahkan kami menemukan galon produksi tahun 2012,” tuturnya saat menyerahkan hasil investigasi kepada Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) pada akhir tahun lalu.

Menurutnya, ini menunjukkan adanya masalah sistemik dalam pengawasan dan penarikan produk air minum dalam kemasan. 

Sementara itu, Ahli Polimer dari Universitas Indonesia, Profesor Mohamad Chalid, menyampaikan bahwa galon guna ulang memiliki batas usia pakai. “Kalau kita batasi 40 kali (pengisian ulang), itu artinya tidak sampai setahun. Itu batas amannya,” kata  Prof. Chalid dalam sebuah acara diskusi di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Ia menerangkan bahwa penggunaan dan proses pencucian yang berulang-ulang dapat merusak struktur kimia plastik, menyebabkan molekul BPA terlepas dan larut ke dalam air minum.

BPKN Desak Produsen Air Minum Tarik Galon Tua

Risiko kesehatan dari paparan BPA dalam jangka panjang tidak bisa dianggap remeh. Berbagai studi ilmiah telah mengaitkan BPA dengan gangguan kesuburan, masalah metabolisme seperti obesitas dan diabetes, gangguan perkembangan otak pada janin, hingga peningkatan risiko kanker payudara dan prostat.

Menanggapi temuan ini, Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) mendesak adanya tanggung jawab dari pihak produsen. Anggota BPKN, Fitrah Bukhari, menyerukan agar produsen segera mengambil tindakan tanpa harus menunggu paksaan hukum.

“Kami meminta (produsen) untuk beritikad baik supaya galon-galon yang sudah lama, yang sudah berusia lanjut itu dapat ditarik kembali,” ujarnya.

“Ini seruan moral walaupun secara hukum itu masih diberlakukan beberapa tahun lagi, tapi secara moral produsen punya tanggung jawab untuk menjaga kesehatan, apalagi air minum ini kan termasuk hajat hidup,” ucap Fitrah.

BPKN berencana akan menindaklanjuti laporan ini dengan melakukan penelitian independen. Sementara itu, konsumen diimbau untuk lebih proaktif dalam melindungi diri dengan memeriksa kondisi fisik dan kode produksi galon sebelum membeli, serta berani menolak produk galon air minum yang sudah tua dan tidak layak pakai.

(Agustina Wulandari )

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement