Namun demikian, ia menegaskan bahwa kebiasaan tersebut tidak boleh dibiarkan berlarut-larut karena dampaknya jauh lebih besar dibandingkan manfaat sesaat yang dirasakan.
“Jangan sampai rokok justru menjadi pemicu tambahan runtuhnya ekonomi keluarga dan merusak kesehatan anak-anak kita,” pungkasnya.
Meski demikian, Menkes juga mengingatkan pentingnya melihat persoalan rokok secara objektif dan menyeluruh. Ia menilai, pendekatan edukatif dan perubahan pola pikir masyarakat menjadi kunci, mengingat budaya merokok telah lama mengakar di Indonesia.
Dengan kesadaran bersama, diharapkan pengeluaran untuk rokok bisa dialihkan ke kebutuhan yang lebih produktif, khususnya pemenuhan gizi anak, demi menciptakan generasi yang lebih sehat dan berkualitas di masa depan.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)