JAKARTA - Otak adalah organ paling kompleks di tubuh manusia yang membutuhkan nutrisi spesifik agar tetap berfungsi optimal dalam berpikir, memori, suasana hati, dan proses belajar. Meski banyak makanan yang dapat mendukung kesehatan otak, ada juga sejumlah makanan dan minuman yang sebaiknya dibatasi atau dihindari karena dapat berdampak negatif pada fungsi kognitif jangka panjang.
Berikut ini adalah lima jenis makanan dan minuman yang dianggap paling buruk untuk kesehatan otak:
Minuman beralkohol dapat mengganggu cara kerja sel otak dan jalur komunikasi antarneuron, terutama pada area yang bertanggung jawab terhadap memori dan pengendalian emosi. Alkohol memengaruhi neurotransmiter di otak, sehingga dapat menyebabkan gangguan memori, suasana hati yang tidak stabil, serta penurunan kemampuan pengambilan keputusan.
Dampak ini tidak hanya terjadi pada peminum berat saja. Bahkan konsumsi ringan hingga sedang pun dapat menyebabkan penurunan fungsi hippocampus, bagian otak yang berperan penting dalam memori.
Beberapa jenis ikan laut besar, seperti tuna dan makarel, cenderung mengandung merkuri dalam kadar tinggi. Logam berat ini dapat masuk ke dalam sistem saraf dan mengganggu fungsi otak.
Merkuri dikenal sebagai neurotoksin yang berpotensi merusak sistem saraf pusat, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak dan ibu hamil, karena paparannya dapat mengganggu perkembangan otak janin dan kemampuan kognitif.
Konsumsi gula berlebih dapat menyebabkan lonjakan gula darah dan fluktuasi energi yang berpengaruh pada suasana hati dan tingkat kelelahan. Sementara itu, pemanis buatan yang terdapat pada minuman diet dan makanan rendah kalori juga dikaitkan dengan penurunan kesehatan otak, termasuk peningkatan risiko penurunan fungsi kognitif, stroke, dan demensia jika dikonsumsi secara berlebihan dalam jangka waktu panjang.
Kombinasi keduanya dapat mengganggu sistem penghargaan (reward system) otak serta merusak keseimbangan kimiawi yang sehat.
Karbohidrat olahan seperti nasi putih, roti putih, dan makanan berbasis tepung yang diproses mudah dipecah menjadi glukosa yang masuk ke dalam aliran darah. Meskipun karbohidrat dibutuhkan oleh otak sebagai sumber energi, jenis karbohidrat olahan ini cenderung menyebabkan lonjakan gula darah dan peradangan yang, dalam jangka panjang, dapat berdampak pada kesehatan otak.
Makanan ultra-diproses seperti makanan siap saji, camilan kemasan, daging olahan, serta berbagai produk cepat saji umumnya mengandung lemak tidak sehat, gula, natrium, serta pengawet dan aditif dalam jumlah tinggi. Karena nilai gizinya rendah, konsumsi makanan ini dikaitkan dengan peningkatan risiko gangguan otak jangka panjang, termasuk Alzheimer dan kondisi neurodegeneratif lainnya.
Untuk melindungi kesehatan otak, ahli gizi dan peneliti kesehatan merekomendasikan beberapa langkah berikut:
Pilihan makanan sehari-hari memiliki dampak besar terhadap fungsi otak jangka panjang. Oleh karena itu, pilihlah makanan bernutrisi yang dapat membantu menjaga kemampuan berpikir, memori, dan kesejahteraan emosional.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)