Menurut Sri Nurherwati, pola tersebut membuat child grooming sulit dikenali sejak awal dan sekaligus meningkatkan risiko anak mengalami kekerasan berlapis.
“Orang sering kali tidak memahami bahwa pelaku memiliki itikad jahat, karena cara pelaku melakukan pendekatan dan memperlakukan korban terlihat wajar,” ujarnya.
“Itulah yang disebut sebagai bentuk manipulasi yang dialami oleh korban,” tambahnya.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)