JAKARTA – Diet water fasting atau puasa air belakangan ini semakin populer, terutama di media sosial, sebagai metode cepat menurunkan berat badan dan meningkatkan kesehatan. Diet ini hanya memperbolehkan konsumsi air putih tanpa asupan makanan apa pun selama periode tertentu.
Meski disebut-sebut memiliki manfaat kesehatan, para ahli menegaskan bahwa water fasting juga menyimpan risiko serius, terutama jika dilakukan tanpa pengawasan medis.
Melansir healthline, water fasting adalah metode puasa ekstrem di mana seseorang tidak mengonsumsi makanan sama sekali, hanya minum air putih. Umumnya dilakukan selama 24–72 jam, dan tidak dianjurkan lebih lama tanpa pengawasan tenaga kesehatan.
Alasan orang mencoba water fasting antara lain:
Namun, penting dipahami bahwa tubuh tetap membutuhkan nutrisi, sehingga puasa air tidak cocok untuk semua orang.
Beberapa penelitian terutama pada hewan dan studi terbatas pada manusia—menunjukkan potensi manfaat berikut:
1. Mendorong Autofagi
Autofagi adalah proses alami tubuh untuk membersihkan dan mendaur ulang sel-sel yang rusak. Proses ini dikaitkan dengan:
2. Menurunkan Tekanan Darah
Puasa air yang dilakukan dengan pengawasan medis dilaporkan dapat membantu menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi.
3. Meningkatkan Sensitivitas Insulin dan Leptin
Puasa dapat membuat tubuh lebih responsif terhadap insulin dan leptin, hormon yang berperan dalam pengaturan gula darah dan rasa kenyang.
4. Menurunkan Faktor Risiko Penyakit Kronis
Beberapa studi menunjukkan penurunan kadar trigliserida dan peradangan, yang berhubungan dengan risiko penyakit jantung.
Catatan penting: sebagian besar manfaat ini belum cukup kuat untuk dijadikan rekomendasi umum, terutama tanpa pengawasan medis.
Meski terlihat sederhana, water fasting memiliki risiko nyata:
1. Kehilangan Massa Otot
2. Dehidrasi
3. Hipotensi Ortostatik
4. Memperburuk Kondisi Medis Tertentu
Tidak dianjurkan bagi:
(Kurniasih Miftakhul Jannah)