Pilar kedua, yaitu kesadaran diri mengukur seberapa luas dan mendalamnya seseorang mengenal dirinya. Semakin tinggi kesadaran diri seseorang berarti semakin banyak yang dia kenali tentang dirinya. Hal ini berdampak positif dalam pengembangan dirinya lebih lanjut karena ia tahu apa yang dibutuhkan oleh dirinya dan ke arah mana ia harus mengembangkan potensi dirinya.
Beberapa cara dapat dilakukan untuk meningkatkan kesadaran diri, seperti: mau mendengarkan orang lain (menerima masukan), membuka diri terhadap orang lain, mencari informasi tentang diri secara aktif, dan berdialog dengan diri sendiri.
Pilar ketiga adalah harga diri, yaitu ukuran seberapa berharganya diri menurut penilaiannya sendiri. Seseorang dengan harga diri tinggi akan memandang dirinya secara positif, ia mau menerima dirinya apa adanya dengan segala kekuatan dan kelemahan yang dimilikinya.
Sementara orang dengan harga diri rendah memandang dirinya secara negatif, ia kurang dapat menerima dirinya. Harga diri tinggi berbeda dengan sombong. Orang dengan harga diri tinggi tidak memandang rendah terhadap orang lain, sedangkan orang yang sombong memandang dirinya lebih baik dari orang lain dan sekaligus ada unsur merendahkan orang lain.
Ada tiga komponen dalam harga diri.
Pertama, komponen kognitif yaitu merujuk pada pemikiran tentang kekuatan dan kelemahan dirinya.
Kedua, komponen afektif yaitu merujuk pada perasaan yang muncul dari hasil analisis terhadap kekuatan dan kelemahan dirinya. Apakan ia merasa puas atau justru tidak puas.
Ketiga, komponen perilaku yaitu merujuk pada perilaku yang ditunjukkan misalnya, apakah ia berani mengambil risiko menghadapi tantangan atau akan menghindar. Perilaku sehari-hari seseorang merupakan cerminan dari apa yang seseorang pikirkan dan rasakan tentang dirinya. Jadi, jika seseorang berpikir bahwa dirinya bisa sukses maka segala tindakannya akan diarahkan untuk meraih kesuksesan.
Tantangan yang ada tidak menjadikannya halangan untuk mundur.
Meningkatkan harga diri dapat membantu seseorang berfungsi lebih efektif dalam berbagai aspek kehidupan.
Berikut adalah enam strategi yang disarankan:
Menyerang keyakinan yang merusak diri: Ganti keyakinan yang tidak produktif atau standar yang tidak realistis dengan keyakinan yang lebih produktif dan realistis. Beberapa contoh, sebagai berikut:
– “Saya harus sukses dalam segala hal” menjadi “Sukses itu hebat, tapi tidak harus selalu”.
– “Saya harus produktif” menjadi “Ada batasan apa yang bisa saya lakukan, jadi tidak apa-apa jika saya melakukan apa yang saya bisa dan meninggalkan sisanya untuk hari lain”.
– “Saya harus disukai semua orang” menjadi “Akan menyenangkan jika disukai semua orang, tapi kebahagiaan saya tidak tergantung itu”.
Mewaspadai fenomena penipu (impostor phenomenon): Atasi kecenderungan perasaan bahwa kesuksesan yang diperoleh hanya kebetulan saja dan menganggap diri sendiri sebagai "penipu" yang tidak pantas mendapatkan keberhasilan. Carilah mentor yang jujur dan dapat memberikan masukan yang postif serta perspektif yang obyektif akan keberhasilan yang sudah dicapai.
Mencari orang yang memberi dukungan (nourishing people): Ada dua jenis orang yaitu noxious (yang mengkritik dan mencari kesalahan) dan nourishing (yang positif, optimis, dan membuat seseorang merasa baik). Untuk meningkatkan harga diri, kelilingi diri dengan orang-orang yang mendukung dan hindari mereka yang menjatuhkan.
Mengerjakan proyek yang akan menghasilkan kesuksesan: Lakukan tugas yang dapat dicapai (memiliki kemungkinan yang besar untuk berhasil) untuk membangun rekam jejak keberhasilan. Setiap kesuksesan akan memperkuat harga diri dan mempermudah kesuksesan berikutnya. Jika terjadi kegagalan, lihatlah itu sebagai sebuah peristiwa, bukan sebagai identitas diri, dan sebagai kesempatan untuk belajar.
Mengingatkan diri sendiri akan kesuksesan: Lawan kecenderungan untuk berfokus pada kegagalan dengan secara sadar mengingat kembali keberhasilan di masa lalu. Hidupkan kembali pencapaian tersebut untuk memperkuat citra diri yang positif.
Memperoleh afirmasi : Afirmasi adalah pernyataan positif tentang diri sendiri, seperti "Saya adalah orang yang berharga" atau "Saya mampu mencintai dan dicintai." Namun perlu hati-hati, beberapa peneliti berpendapat bahwa afirmasi diri bisa tidak efektif bagi mereka yang memiliki harga diri rendah karena mereka sulit untuk mempercayai kemampuan dirinya. Sebagai alternatif, disarankan juga untuk mencari afirmasi dari orang lain (nourishing people) sehingga mendapatkan umpan balik positif yang lebih otentik dan lebih berdampak dalam membangun harga diri.
Kesimpulan:
Setiap manusia sesungguhnya setiap harinya tengah membangun sebuah mahakarya, dan mahakarya tersebut adalah dirinya sendiri. Dengan demikian, kita adalah arsitek bagi diri kita sendiri dalam membangun pribadi yang penuh manfaat.
Penulis :
Dra. Sri Fatmawati Mashoedi, M.Si.,
Psikolog Universitas Indonesia (UI)
Sumber:
DeVito, J. A. (2018). Human Communication. The Basic Course. Fourteenth Edition. Hoboke, NJ: Pearson Education, Inc.
Kassin, S., Fein, S., Markus, H. R. (2014). Social Psychology. Belmont: Wadsworth, Cengage Learning.
(Rani Hardjanti)