“Tidak mengherankan jika pendapatan industri drama di China sudah mencapai sekitar Rp156 triliun. Angka ini bahkan mengalahkan pendapatan bioskop di Amerika Serikat dan Kanada,” ujarnya.
Dia menambahkan, pada 2025 pendapatan industri ini bahkan diperkirakan bisa melampaui Disney dengan selisih hingga Rp100 triliun.
Menurut Rhenald, kesuksesan drama China tidak lepas dari kemampuan mereka membaca perilaku penonton. Dengan bantuan kecerdasan buatan, produsen konten memahami bahwa rentang perhatian masyarakat kini semakin pendek. Alhasil, drama dibuat dalam episode berdurasi sangat singkat, sekitar lima menit, dan disajikan secara bersambung.
“Kalau ingin tahu kelanjutan ceritanya, penonton harus membayar. Ini cara baru mencari uang,” jelasnya.
Penciptaan Budaya Baru
Format video vertikal yang mudah diakses melalui ponsel juga menjadi kunci penyebaran cepat drama China ke berbagai belahan dunia. Rhenald pun mempertanyakan apakah fenomena ini akan mengubah pola konsumsi masyarakat Indonesia, seperti halnya gelombang budaya Korea yang sebelumnya memengaruhi gaya hidup hingga produk makanan.
“Budaya itu bisa mengubah kehidupan. Pertanyaannya, apakah kita siap dengan gelombang produk dan budaya China yang semakin menguat?” tutupnya.
(Rani Hardjanti)