Beberapa hari pertama sangat kritis, karena aliran darah tidak sempurna. Untungnya dokter berhasil menstabilkan transplantasi, dan telinga kembali berwarna merah muda yang sehat.
Selama lima bulan berikutnya, wanita itu hanya memakai sepatu longgar untuk menghindari tekanan saat keluar rumah, dan berjalan cukup cepat untuk melancarkan peredaran darah.
Selama periode ini, kulit yang ditransplantasikan di kepalanya juga secara bertahap menempel, menunggu operasi reposisi akhir.
Beberapa bulan kemudian, tim ahli bedah mencoba memposisikan kembali telinga wanita itu ke tempat asalnya, tetapi ternyata sangat sulit. Pembuluh darah dan saraf di kulit kepala wanita itu terpelintir dan berubah bentuk.
Dokter pun harus membedah jaringan lapis demi lapis di bawah mikroskop untuk menemukan pembuluh darah dan saraf yang dapat digunakan sebelum menghubungkannya dengan yang ada di telinga.
Akhirnya, setelah lima bulan yang menyakitkan, telinga kiri wanita itu kembali ke tempatnya.
(Rani Hardjanti)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.