“Kota Pariaman adalah kota yang mendunia, dimanapun negaranya pasti ada diaspora Kota Pariaman juga sejarah tabuik di Pariaman ini memang sudah sangat mendunia,” tuturnya.
Ia juga mengapresiasi dukungan Menteri Kebudayaan dalam pelestarian budaya lokal, khususnya melalui museum. “Kita beruntung dengan kehadiran Menteri Kebudayaan yang melirik budaya Pariaman. Kita buat museum ini fungsional, bisa dimanfaatkan anak muda dalam menggali ilmu dan budaya,” ucapnya.
Apresiasi serupa disampaikan oleh Wali Kota Pariaman Yota Balad. “Saya atas nama pribadi mengucapkan terima kasih kepada Menteri Kebudayaan atas kehadiran dan bantuan Bapak, Kota Pariaman akhirnya memiliki museum untuk pertama kalinya setelah berdiri selama 23 tahun,” katanya.
Di hadapan ratusan masyarakat dan tamu undangan, senada dengan Menteri Kebudayaan dan Wakil Gubernur Sumatera Barat, Wali Kota Pariaman berharap Museum Budaya Kota Pariaman dapat menjadi garda terdepan, sumber inspirasi, kebanggaan, serta menjadi daya tarik bagi wisatawan dan ruang edukasi.
Rumah Budaya Tabuik Pasa yang kini resmi menjadi Museum Budaya Kota Pariaman menyimpan dokumentasi pelaksanaan tabuik bertahun-tahun silam. Di dalamnya tersimpan potret pelaksanaan tabuik dari masa ke masa serta diorama yang menggambarkan prosesi acara tabuik dilengkapi penggambaran prosesnya secara detail.
“Kalau kita lihat tadi dari gambar-gambarnya, bahkan di zaman Hindia-Belanda sudah ada gambar atau foto tentang Festival Tabuik yang diselenggarakan di tahun 1887,” ucap Menbud Fadli yang ditemui setelah mengelilingi koleksi museum.