Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Mengulik Asal-usul Kayutangan, Wisata Heritage Baru Kota Malang Warisan Kolonial Belanda

Avirista Midaada , Jurnalis-Jum'at, 20 September 2024 |10:14 WIB
Mengulik Asal-usul Kayutangan, Wisata <i>Heritage</i> Baru Kota Malang Warisan Kolonial Belanda
Kayutangan, wisata heritage baru di Kota Malang, Jawa Timur (Foto: Instagram/@kayutanganheritage)
A
A
A

KAYUTANGAN Heritage menjadi destinasi baru wisata di Kota Malang. Kawasan wisata ini sebenarnya merupakan warisan kawasan bisnis era kolonialisme Belanda saat menduduki Indonesia. 

Kawasan ini oleh Belanda ditata sedemikian rupa demi menghasilkan cuan yang menghidupi perputaran dan pajak kas negara kala itu. Sejumlah bangunan ikonik juga masih dipertahankan di kawasan heritage hingga kini.

Nama Kayutangan sendiri disebut sebagaimana dikutip dari buku 'Potensi Kampung Kayutangan Heritage' yang disusun oleh Prof. Lalu Mulyadi, Ir. Budi Fathony, dan Ester Prikasari, karena wilayah ini diapit dua sungai yakni Sungai Sukun dan Sungai Brantas. Maka dapat dipahami bila areal apit sungai tersebut merupakan tanah yang potensial bagi tumbuh lebatnya aneka tanaman, sehingga konon membentuk areal hutan (alas, halas, wana).

Salah satu jenis pohon yang tumbuh di hutan itu, bahkan menjadi tanaman yang dominan adalah pohon (wit) tangan. Nama ‘tangan’ inilah yang disebut daun – daunnya menyerupai jari – jari tangan yang mengembang. Ada kecenderungan jumlah percabangan daunnya empat (pat, patang).

Sebutan untuk pohon tegak, yang batangnya keras atau cukup keras dalam bahasa Jawa adalah 'kayu'. Karenanya pohon ini mendapat sebutan 'kayu tangan'. 

Ketika masih merupakan areal hutan, di sekitar Koridor Kayutangan tumbuh cukup banyak pohon (kayu) tangan tersebut. Hal inilah yang kiranya menjadi latar adanya sebutan Jalan (Koridor) Kayu Tangan bila ditulis dengan ejaan van Opoesen 'kajoe'.

Potret Kayutangan tempo duluPotret Kayutangan tempo dulu (Foto: Ist)

Unsur sebutan 'tangan' dari pohon itu kedapatan dipakai juga sebagai unsur nama desa sekaligus kecamatan di sub-area timur Tulungagung yaitu Rejotangan (rejo-pangan). 

Di samping itu, areal di samping utara belakang Pasar Wage di Desa Kenayan Kabupaten Tulungagung juga memiliki unsur nama 'tangan' yakni Jotangan (kata 'jo' boleh jadi adalah akronim dari rejo).

Dengan demikian, pohon 'kayu tangan' sebagaimana dikutip dari buku 'Potensi Kampung Kayutangan Heritage' amat mungkin pada masa lampau tumbuh di berbagai tempat di Jawa, antara lain di Malang dan Tulungagung. 

Unsur namanya sering digunakan untuk menamai sebuah desa atau dusun yang bersumber pada nama-nama pohon atau kayu yang banyak tumbuh di areal tersebut. 

Dengan kata lain, 'kayu tangan' pada konteks ini adalah sebuah toponimi, yakni nama yang memberi gambaran ekologis masa lalu pada area bersangkutan.

Sejarawan Universitas Negeri Malang (UM) Reza Hudiyanto menyebut, Kayutangan oleh Belanda dikonsep layaknya kota-kota di Eropa dengan ciri khas yang unik dan berbeda dengan kawasan kota-kota lainnya. Hal ini menjadikan antara etalase toko dengan jalan di Kayutangan cukup dekat.

 

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement