Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Dokter Ungkap Risiko Remaja Pakai Vape Ganja, Rentan Terkena Cedera Paru-Paru

Wiwie Heriyani , Jurnalis-Sabtu, 27 April 2024 |04:00 WIB
Dokter Ungkap Risiko Remaja Pakai Vape Ganja, Rentan Terkena Cedera Paru-Paru
Bahaya menggunakan vape. (Foto: Freepik.com)
A
A
A

BARU-baru ini ramai soal vape berisi ganja yang dikonsumsi oleh selebgram Chandrika Chika dan lima pelaku penyalahgunaan narkoba lainnya. Saat mengamankan mereka, pihak kepolisian menemukan barang bukti berupa satu pods vape yang berisi cairan berisi ganja atau liquid THC.

Kasus ini lantas menjadi sorotan dari berbagai pihak. Tidak terkecuali dari Dokter Spesialis Paru, Prof. Dr. dr. Erlina Burhan. Melalui thread di akun X miliknya, Prof Erlina sendiri kembali menjelaskan terkait bahaya vape itu sendiri.

“Saya awali dari bahaya vape dengan rasa itu sendiri ya. Kita tahu bahwa paparan inhalasi diacetyl dapat menyebabkan popcorn lung dengan batuk parah, mengi, sesak napas, serta gejala yang menyerupai penyakit paru obstruktif kronik (PPOK),” ujar Prof Erlina, melalui akun X miliknya, @erlinaburhan, dikutip Sabtu, (26/4/2024).

Prof Erlina membeberkan, dalam suatu tinjauan penelitian yang diterbitkan antara 2006 dan 2021 ditemukan bahwa vape berasa atau beraroma menunjukkan efek yang merugikan. Beberapa aroma yang berbahaya dan dapat menimbulkan toksisitas paru tersebut antara lain kayu manis, strawberry, dan mentol.

Efek yang paling banyak dilaporkan adalah adanya gangguan biomarker pro-inflamasi dan peningkatan sitotoksisitas. Rasa-rasa tersebut juga menyebabkan satu atau lebih efek samping di antaranya disfungsi mitokondria, kematian sel, produksi ROS, dan disregulasi sitokin inflamasi.

Studi lainnya yang dilakukan pada 2019 dan diterbitkan oleh Cancer Prevention Research menunjukkan bahwa bahwa e-liquid vaping, khususnya propilen glikol dan gliserin, dapat menyebabkan peradangan di paru-paru.

Paru-paru

Orang yang tidak pernah merokok lalu menggunakan vape dua kali sehari selama sebulan, memiliki kadar propilen glikol dalam sistem yang dikaitkan dengan perubahan jumlah sel inflamasi atau peradangan pada paru mereka meskipun perubahannya kecil. Penelitian tersebut diterbitkan berbarengan dengan adanya wabah cedera paru-paru terkait vape di Amerika Serikat.

Pada Juni 2019, lebih dari 1000 kasus baru vaping dengan cedera paru yang terkait dengan penggunaan produk atau EVALI. Pasien mengalami dispnea, batuk, dan hipoksemia dengan kekeruhan udara bilateral pada pencitraan dadanya.

Sebagian besar pasien memerlukan perawatan di unit intensif dan terapi steroid. Pasien-pasien itu pulih dengan penghentian vape, perawatan suportif, dan terapi steroid.

Prof Erlina lantas mengaitkannya dengan laporan pada salah satu berita, US Centers for Disease Control and Prevention yang mengungkap bahwa kebanyakan pasien melaporkan riwayat penggunaan produk yang mengandung tetrahydrocannabinol (THC), yakni salah satu kandungan dalam ganja. Menurutnya, remaja yang menggunakan vape ganja juga memiliki risiko besar untuk mengalami cedera paru-paru.

“Mari kita masuk pada vape minyak ganja yang juga dikenal sebagai vaping minyak tetrahydrocannabinol (THC). Penelitian University of Michigan menunjukkan remaja yang menggunakan vape ganja memiliki risiko lebih besar untuk mengalami cedera paru-paru,” tuturnya.

Prof Erlina lantas membeberkan beberapa dampak bahaya lain penggunaan vape ganja untuk kesehatan kalangan remaja.

“Remaja yang melaporkan penggunaan vape ganja dua kali lebih mungkin untuk mengalami mengi dan suara seperti bersiul di dada. Kaitan gejala pernapasan lainnya antara penggunaan rokok, vape, dan ganja adalah batuk kering,” kata Prof Erlina.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement