Safina menjelaskan hal pertama yang perlu diperhatikan para orang tua adalah, pihak tenaga pengajar atau guru dan lingkungan sekolah yang berani dan siap menerima anak pengidap autis.
“Guru dan lingkungan sekolahnya harus siap menerima anak seperti ini dan komitmen. Jadi enggak cuma bisa terima, tapi mereka juga harus komit karena yang penting komitmen itu,” ungkap Safina.
Selain itu, melakukan survey dan menggali informasi mengenai sekolah terkait juga penting dilakukan orangtua. Ia menyarankan, ayah dan ibu tak cuma perlu menggali dari pihak sekolah, tapi juga testimoni dari alumni dan orangtua yang pernah menyekolahkan anaknya yang mengidap autis di sekolah tersebut.
Kita harus survey, cari informasi, biasanya saya mencari informasi bukan cuma dari pihak sekolah. Saya juga tanya-tanya (alumni) sekolah di sana bagaimana, dan tanya sama orangtua yang pernah menyekolahkan anaknya di sekolah tersebut,” sambungnya.