
Selama masa infeksi yang panjang ini, para dokter secara rutin mengambil sampel dari pria tersebut untuk melakukan analisis genetik virus corona. Mereka menemukan bahwa varian asli Omicron BA1 telah mengalami lebih dari 50 mutasi, beberapa di antaranya memungkinkannya untuk menghindari sistem kekebalan manusia.
Meskipun kasus ini tidak menimbulkan penularan kepada masyarakat lain. Namun, penelitian ini menyoroti dampak terhadap risiko infeksi virus SARS-CoV-2 yang berkepanjangan, terutama pada individu dengan sistem kekebalan yang lemah.
“Kasus ini menggarisbawahi risiko infeksi SARS-CoV-2 yang persisten pada individu dengan sistem imun yang lemah karena varian virus SARS-CoV-2 yang unik mungkin muncul karena evolusi intra-host yang ekstensif,” tutur para peneliti.
Para peneliti menekankan pentingnya pemantauan yang dilakukan secara terus-menerus terhadap individu dengan kondisi kekebalan yang rentan, mengingat potensi ancaman kesehatan masyarakat yang ditimbulkan oleh masuknya varian virus yang dapat menghindari kekebalan tubuh manusia.
(Leonardus Selwyn)