Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Ragam Tradisi Sambut Lebaran Paling Unik di Indonesia, Ada Daerah Asalmu?

Wiwie Heriyani , Jurnalis-Senin, 08 April 2024 |08:22 WIB
Ragam Tradisi Sambut Lebaran Paling Unik di Indonesia, Ada Daerah Asalmu?
Ilustrasi (Foto: Freepik)
A
A
A

UMAT muslim sedunia sebentar lagi akan merayakan hari raya Idul Fitri, yakni hari kemenangan setelah sebulan penuh melaksanakan ibadah puasa Ramadhan.

Sama seperti bulan Ramadhan yang disambut meriah, momen Idul Fitri atau Lebaran pun disambut penuh kebahagiaan.

Bahkan, setiap daerah di Indonesia seakan memiliki tradisi masing-masing dalam menyambut Lebaran.

Di setiap belahan negara memiliki tradisi yang berbeda-beda. Indonesia sendiri menjadi negara yang paling unik dalam hal tradisi perayaan Idul Fitri atau lebaran.

Berikut daftar tradisi unik menyambut Lebaran di Indonesia, sebagaimana dikutip dari website resmi Kemenparekraf.

1. Grebeg Syawal (Daerah Istimewa Yogyakarta/DIY)

Membahas tradisi menyambut Lebaran, Grebeg Syawal menjadi salah satu ritual rutin digelar setiap tahunnya.

Tradisi yang berasal dari Keraton Yogyakarta ini dilakukan setiap 1 Syawal, atau tepat pada Hari Raya Idul Fitri.

Grebeg Syawal

(Foto: menpan.go.id)

Grebeg Syawal merupakan wujud syukur setelah melewati bulan Ramadan yang sudah dilaksanakan sejak abad ke-16.

Daya tarik dari tradisi Grebeg Syawal ada pada tujuh gunungan yang seluruhnya akan dibawa oleh abdi dalem dan dikawal prajurit Bregodo dari Alun-Alun Utara Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat menuju Masjid Gedhe Kauman, Pura Pakualaman, dan Kantor Kepatihan. Gunungan tersebut akan didoakan terlebih dahulu, sebelum nantinya diperebutkan masyarakat.

2. Ronjok Sayak (Bengkulu)

Tradisi Lebaran di Indonesia yang tidak kalah unik bisa ditemukan di Bengkulu yang disebut Ronjok Sayak. Secara umum, kata Sayak sendiri bisa diartikan sebagai batok kelapa.

Dengan kata lain, Ronjok Sayak adalah tradisi membakar batok kelapa kering yang ditumpuk hingga setinggi satu meter.

Menurut kepercayaan, tradisi Lebaran Ronjok Sayak sudah dilaksanakan sejak ratusan tahun silam. Masyarakat Bengkulu percaya jika api merupakan penghubung antara manusia dan leluhur.

Ronjok Sayak

(Foto: Instagram/@bandhanesia)

Itu mengapa, pelaksanaan tradisi Ronjok Sayak berjalan hikmat, dibarengi dengan banyaknya doa-doa yang dipanjatkan selama proses pembakaran batok kelapa. Biasanya, tradisi Ronjok Sayak ini dilakukan setelah melaksanakan Shalat Isya pada 1 Syawal.

3. Tradisi Meriam Karbit (Pontianak)

Jangan kaget jika Anda mendengar suara gemuruh bak dentuman guntur di Pontianak menjelang Lebaran.

Pasalnya, itu adalah suara ledakan Meriam Karbit tradisi warga Pontianak yang dirayakan di pinggiran Sungai Kapuas, setiap kali bulan Ramadhan dan Lebaran datang.

Meriam Karbit

(Foto: Antara)

Konon katanya, permainan Meriam ini guna untuk mengusir hantu-hantu lho. Festival menyambut Lebaran yang terkenal meriah ini digelar selama tiga hari berturut-turut.

Dimulai sejak sebelum, sesaat, dan sesudah Lebaran. Menariknya, Festival Meriam Karbit tidak hanya menjadi tradisi Lebaran saja.

Melainkan, juga menjadi warisan budaya yang kental dengan nilai historis karena berkaitan dengan sejarah berdirinya Kota Pontianak.

4. Binarundak (Sulawesi Utara)

Masyarakat Motoboi Besar di Sulawesi Utara juga memiliki tradisi menyambut Lebaran warisan leluhur yang masih dilakukan dan dilestarikan hingga sekarang, yakni tradisi Binarundak.

Sebuah tradisi membuat atau memasak nasi jaha secara bersama-sama yang dilaksanakan selama tiga hari berturut-turut setelah Hari Raya Idul Fitri.

Nasi jaha adalah makanan khas Sulawesi Utara yang berbahan dasar beras dan dimasak dalam batang bambu. Hidangan khas ini memiliki perpaduan rasa gurih dari santan, serta jahe yang cukup kuat.

Menurut kepercayaan, tradisi Binarundak dalam menyambut Lebaran merupakan sarana silaturahmi terhadap sesama, sekaligus sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Tradisi Perang Topat

(Foto: Instagram/@z.war_)

5. Perang Topat (Nusa Tenggara Barat)

Di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) ada tradisi Perang Topat atau 'perang ketupat' sebagai tradisi menyambut Lebaran yang unik dan penuh makna.

Konon, tradisi saling melemparkan ketupat ini merupakan simbol kerukunan antar umat Hindu dan Islam yang hidup berdampingan di Lombok.

Sebelum 'perang' dimulai, masyarakat akan melakukan doa dan ziarah di Makam Loang Baloq di kawasan Pantai Tanjung Karang, dan Makam Bintaro di kawasan Pantai Bintaro.

Uniknya, setelah tradisi dimulai, ketupat-ketupat yang digunakan untuk berperang akan kembali diperebutkan, karena dipercaya membawa kesuburan sehingga membuat panen melimpah.

(Rizka Diputra)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement