Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Mengulik Sejarah Dugderan, Tradisi Unik Sambut Ramadhan di Semarang

Syifa Fauziah , Jurnalis-Minggu, 03 Maret 2024 |07:08 WIB
Mengulik Sejarah Dugderan, Tradisi Unik Sambut Ramadhan di Semarang
Dugderan, tradisi unik sambut Ramadhan di Semarang (Foto: Visit Jawa Tengah)
A
A
A

Raden Mas Tumenggung Aryo Purboningrat dahulu menggelar upacara dengan membunyikan suara bedug (dengan bunyi dug) sebagai puncak awal bulan puasa sebanyak 17 kali dan diikuti dengan suara dentuman meriam (dengan bunyi der) sebanyak 7 kali.

Tradisi ini biasanya dihadiri oleh berbagai lapisan masyarakat yang tinggal di kota Semarang dan dilakukan untuk merayakan keanekaragaman etnis, budaya, kuliner, dan seni yang ada di Semarang.

Infografis Wisata Religi di Jakarta

Biasanya karnaval ini berawal dari halaman Kantor Balai Kota sampai Masjid Agung Semarang tersebut nantinya akan dilanjutkan dengan pembacaan suhuf halaqah dan penabuhan bedug.

(Rizka Diputra)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement