ANGKA kasus Tuberkulosis (TB) terus meningkat setiap tahunnya. Bahkan angka kematian TB di Indonesia capai 10,6 ribu kasus. Terkait hal tersebut Dokter Spesialis Paru, Prof. Dr. dr. Erlina Burhan, M.Sc., Sp.P(K) mengatakan tragedi ini harus segera diatasi. Salah satu caranya adalah Indonesia ikut menargetkan eliminasi TB di 2030.
"Agendanya adalah menurunkan kasus kematian sebanyak 90 persen, menurunkan kasus insiden sebanyak 80 persen, dan meniadakan beban biaya untuk pasien dan keluarga TB sebanyak 0 persen," ujar dr Erlina dalam pemaparannya saat Pengukuhan Guru Besar Tetap Fakultas Kedokteran Indonesia, Senin (19/2/2024).
Dokter yang sudah dikukuhkan sebagai Guru Besar Tetap di Fakultas Kedokteran Indonesia ini mengatakan untuk mencapai target tersebut tentunya harus ada perubahan dan transformasi dari segala bidang. Mulai dari mengoptimalkan instrumen yang ada, seperti diagnosis, pengobatan, hingga pencegahan, memanfaatkan kemajuan teknologi yang ada untuk membuat vaksin baru.

"Vaksin BCG sekarang nggak efektif, harus ada vaksin baru. Sekarang obat-obatan dengan durasi singkat, ayo manfaatkan harus pencegahan, kalau ini dilakukan Insya Allah bisa menuju eliminasi yang targetnya adalah hanya satu kasus TB per satu juta penduduk, artinya kalau di Indonesia pada 2030 ada 300 juta penduduk hanya boleh 300 orang yang sakit TB, yok bersama-sama menuju itu," katanya.
Dokter Erlina mengaku sangat iri dengan kesuksesan Covid-19, dimana para medis hingga masyarakat awam teredukasi dan tersadarkan tentang pentingnya pencegahan Covid-19. Hal tersebut juga yang dia inginkan dari kasus TB.
"Saat Covid-19 kita berkolaborasi, kita butuh kolaborasi mulai dari presiden dengan seluruh kementerian, nggak hanya Kementerian Kesehatan karena TB cuma 30 persen, selebihnya non medis, jadi semua kementerian harus terlibat. JKN, inovasi ekosistem, pebisnis pelaku usaha, organisasi profesi, agama, budaya, institusi pendidikan dan semuanya kolaborasi dalam orkestrasi melakukan inovasi," katanya.