Berdasarkan penelitian JFPA, Kitamura menemukan bahwa tekanan finansial yang buruk memengaruhi kehidupan dalam berumah tangga. Teori lain mendukung gagasan menghabiskan terlalu banyak waktu di tempat kerja dan kekurangan energi menjadi faktor penyebab utama.
Siklus resesi seks ini, sulit untuk diatasi karena anak muda cenderung memiliki komunikasi yang buruk. Akibatnya, masyarakat Jepang cenderung enggan berkontak dengan lawan jenis, atau tidak bisa mempertahankan sikap positif terhadap aspek seksualitas.
“Pertanda buruk bagi populasi di Jepang yang sudah jelas mengalami penurunan, yaitu sebanyak 123,29 juta orang Jepang tahun lalu dari puncaknya sebesar 128,1 juta pada 2010. Angka itu diperkirakan terus menyusut menjadi 104,69 juta pada 2050,” ucap Kitamura.
Dengan demikian, permasalahan itu harus diatasi segera, seperti dukungan pemerintah terhadap finansial pasangan ataupun perbedaan pandangan antara laki-laki dan perempuan mengenai pernikahan.
“Penurunan tingkat kelahiran di Jepang lebih serius daripada pasangan yang kesulitan dalam kehidupan seksual. Jika anak muda tidak menikah, maka bagaimana kami bisa membangun masyarakat untuk memudahkan kaum muda yang miskin?,” katanya.
(Leonardus Selwyn)