Beberapa negara, termasuk Amerika Serikat, Jerman, Prancis, dan Brasil, telah memberikan peringatan kepada warganya yang berencana mengunjungi Machu Picchu, situs warisan dunia sejak 1983.
Mereka menyebutkan potensi kekurangan air dan kebutuhan pokok lainnya akibat gangguan transportasi.
Pariwisata adalah sektor ekonomi utama di Cusco, dengan lebih dari 200 ribu orang bekerja di sektor ini.

Sebelum protes, sekitar 4.500 pengunjung masuk ke Machu Picchu setiap hari. Meskipun belum ada angka resmi tentang kerugian selama protes.
Beberapa serikat pekerja pariwisata memperkirakan kerugiannya mencapai sekitar USD4,7 juta (Rp73 miliar).
"Kerugian ini mencakup semua sektor yang terkait langsung dengan pariwisata seperti agen-agen pariwisata, hotel, restoran, pemandu wisata, pasar, sopir taksi, dan komunitas petani," ujar Presiden Asosiasi Agen Pariwisata Cusco, Elena González.
(Rizka Diputra)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.