Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Pariwisata Machu Picchu Lesu Imbas Layanan Kereta Api, Kerugian Ditaksir Rp73 Miliar

Narissa Nurulita Pamuji , Jurnalis-Jum'at, 02 Februari 2024 |08:01 WIB
Pariwisata Machu Picchu Lesu Imbas Layanan Kereta Api, Kerugian Ditaksir Rp73 Miliar
Kawasan wisata Machu Picchu di Peru (Foto: dok. Jair Garciaferro)
A
A
A

PERJALANAN, akomodasi, dan tempat makan di sekitar reruntuhan Machu Picchu, destinasi wisata terkemuka di Peru, hampir sepenuhnya sepi pekan ini.

Hal ini terjadi karena layanan kereta api menuju area tersebut dibatalkan saat protes yang tengah berlangsung selama seminggu karena pemindahan penjualan tiket masuk ke perusahaan swasta.

Melansir dari NBC News, pelaku usaha kecil dan pekerja di sektor pariwisata merasa khawatir terhadap sistem tiket baru yang diberlakukan pemerintah Peru 10 hari yang lalu.

Mereka berpendapat bahwa sistem tersebut dapat merugikan mereka dan memberikan keuntungan kepada perusahaan besar, sehingga protes mereka telah mengakibatkan penurunan kunjungan wisatawan.

Infografis Kota Paling Ramah Sedunia

"Situasinya seperti masa pandemi Covid-19, hampir tidak ada orang yang terlihat," keluh karyawan Hotel Inkas Land di Distrik Machu Picchu, Roger Monzon.

Hotel yang memiliki 18 kamar itu saat ini hanya dihuni oleh dua turis asal Portugal. Protes yang dimulai pada 24 Januari 2024 ini merupakan reaksi terhadap keputusan pemerintah untuk menyerahkan penjualan tiket masuk ke situs Machu Picchu kepada Joinnus, platform penjualan tiket virtual yang dimiliki oleh salah satu kelompok ekonomi terkaya di Peru.

Pekerja pariwisata dan operator tur kecil menyatakan ketidakpercayaan terhadap sistem baru ini, mengklaim bahwa ini akan memberikan keuntungan kepada operator tur besar, merugikan persaingan bebas, dan pemilik usaha kecil.

Pengunjuk rasa menuntut pembatalan sistem baru ini dan mendesak Menteri Kebudayaan, Leslie Urteaga yang menyetujui perubahan tiket tersebut segera mengundurkan diri.

Beberapa negara, termasuk Amerika Serikat, Jerman, Prancis, dan Brasil, telah memberikan peringatan kepada warganya yang berencana mengunjungi Machu Picchu, situs warisan dunia sejak 1983.

Mereka menyebutkan potensi kekurangan air dan kebutuhan pokok lainnya akibat gangguan transportasi.

Pariwisata adalah sektor ekonomi utama di Cusco, dengan lebih dari 200 ribu orang bekerja di sektor ini.

Infografis Negara dengan Paspor Terkuat 2024

Sebelum protes, sekitar 4.500 pengunjung masuk ke Machu Picchu setiap hari. Meskipun belum ada angka resmi tentang kerugian selama protes.

Beberapa serikat pekerja pariwisata memperkirakan kerugiannya mencapai sekitar USD4,7 juta (Rp73 miliar).

"Kerugian ini mencakup semua sektor yang terkait langsung dengan pariwisata seperti agen-agen pariwisata, hotel, restoran, pemandu wisata, pasar, sopir taksi, dan komunitas petani," ujar Presiden Asosiasi Agen Pariwisata Cusco, Elena González.

(Rizka Diputra)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement