PERJALANAN, akomodasi, dan tempat makan di sekitar reruntuhan Machu Picchu, destinasi wisata terkemuka di Peru, hampir sepenuhnya sepi pekan ini.
Hal ini terjadi karena layanan kereta api menuju area tersebut dibatalkan saat protes yang tengah berlangsung selama seminggu karena pemindahan penjualan tiket masuk ke perusahaan swasta.
Melansir dari NBC News, pelaku usaha kecil dan pekerja di sektor pariwisata merasa khawatir terhadap sistem tiket baru yang diberlakukan pemerintah Peru 10 hari yang lalu.
Mereka berpendapat bahwa sistem tersebut dapat merugikan mereka dan memberikan keuntungan kepada perusahaan besar, sehingga protes mereka telah mengakibatkan penurunan kunjungan wisatawan.

"Situasinya seperti masa pandemi Covid-19, hampir tidak ada orang yang terlihat," keluh karyawan Hotel Inkas Land di Distrik Machu Picchu, Roger Monzon.
Hotel yang memiliki 18 kamar itu saat ini hanya dihuni oleh dua turis asal Portugal. Protes yang dimulai pada 24 Januari 2024 ini merupakan reaksi terhadap keputusan pemerintah untuk menyerahkan penjualan tiket masuk ke situs Machu Picchu kepada Joinnus, platform penjualan tiket virtual yang dimiliki oleh salah satu kelompok ekonomi terkaya di Peru.
Pekerja pariwisata dan operator tur kecil menyatakan ketidakpercayaan terhadap sistem baru ini, mengklaim bahwa ini akan memberikan keuntungan kepada operator tur besar, merugikan persaingan bebas, dan pemilik usaha kecil.
Pengunjuk rasa menuntut pembatalan sistem baru ini dan mendesak Menteri Kebudayaan, Leslie Urteaga yang menyetujui perubahan tiket tersebut segera mengundurkan diri.