SELAMA tiga bulan terakhir, serangan brutal yang dilakukan oleh pasukan Israel di Jalur Gaza, Palestina telah membuat banyak orang mengurangi pilihan untuk mencari perawatan medis.
Kondisi semakin mengenaskan dengan jumlah ruang perawatan kesehatan yang sudah hampir tidak ada. Kondisi ini membuat organisasi seperti Médecins Sans Frontieres (MSF) melakukan evakuasi rumah sakit dan meninggalkan pasien.
“Kami secara bertahap terpojok dalam perimeter yang sangat ketat di Gaza Selatan, di Rafah, dengan pilihan yang berkurang untuk menawarkan bantuan medis yang kritis, sementara kebutuhan sangat meningkat,” kata Thomas Lauvin selaku Koordinator Proyek MSF di Gaza, dikutip dalam laman Medecins Sans Frontieres, Senin (15/1/2024).
“Ketika serangan di Gaza telah berkembang kami harus mengevaluasi beberapa fasilitas kesehatan di Utara Gaza, kemudian di Area Tengah,” tuturnya.

Lebih lanjut, dengan jumlah Sumber Daya Manusia (SDM) yang terbatas pihaknya mengatakan akan bekerja mengutamakan daerah sisi Selatan terlebih dahulu. Karena mengingat pada daerah lainnya kondisi sedang tidak memungkinkan. Di sisi lain, karena kehabisan rumah sakit mereka pun terpaksa untuk meninggalkan pasien.
Setidaknya kini Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan hanya ada 13 dari 36 rumah sakit di Gaza yang masih berfungsi sebagian diantaranya adalah sembilan di selatan dan empat di utara. Sedangkan dua rumah sakit besar di Gaza Selatan beroperasi dengan kapasitas tempat tidur tiga kali lipat namun kehabisan persediaan dasar dan bahan bakar.
“Meninggalkan rumah sakit Al-Aqsa beserta pasien adalah keputusan paling hancur yang kami lakukan,” kata Enrico Vallaperta, di Referensi Medis Proyek MSF di Gaza.