Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Di Balik Kemewahannya, Ternyata Masih Ada Orang Miskin di Kota Saranjana

Nanda Dwi Cahyani , Jurnalis-Minggu, 14 Januari 2024 |08:02 WIB
Di Balik Kemewahannya, Ternyata Masih Ada Orang Miskin di Kota Saranjana
Bukit Saranjana di pinggir Pantai Oka-Oka, Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan (Foto: YouTube/Mif Cungkring)
A
A
A

SARANJANA selalu menarik untuk diulas. Daerah berupa perbukitan itu diyakini sebagai kota gaib mewah dengan peradaban modern yang hanya bisa dilihat oleh 'orang-orang pilihan' atau yang memiliki kemampuan mata batin.

Selama ini, Kota Saranjana kerap diidentikkan sebagai tempat mewah dengan deretan gedung pencakar langit di dalamnya.

Bahkan, diceritakan bahwa rumah-rumah penduduk Saranjana bangunannya sangat megah mirip arsitektur khas Romawi dengan banyak tiang besar menjulang.

Tak heran jika banyak orang yang tergiur memasuki kota gaib tak kasat mata yang masuk wilayah Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan itu.

Terlepas dari mitos yang menyelimuti Saranjana, ternyata kota gaib ini sama saja seperti di dunia nyata. Tidak semua penduduknya tajir melintir alias orang kaya.

Bukit Saranjana

Bukit Saranjana (Foto: YouTube/Mif Cungkring)

Mereka juga ada yang sukses dan sejahtera, namun tak sedikit pula yang hidup dalam keterbatasan dan serba kekurangan.

Salah seorang warga Kotabaru, Burhan Nahrub menceritakan, Kota Saranjana tidak hanya berbentuk perkotaan mewah, namun di sana juga terdapat pedesaan atau perkampungan sederhana sebagaimana di alam manusia.

"Orang-orang Saranjana, seperti kita, memiliki kehidupan yang serupa, meskipun mungkin terdapat perbedaan dalam fasilitas dan teknologi yang mereka miliki," kata Burhan, dikutip dari channel YouTube-nya, Burhan Nahrub Channel.

Ia menjelaskan, meski ada pandangan bahwa manusia tertentu dapat menembus Saranjana, namun penting untuk diingat bahwa kehidupan di alam sana mungkin sulit dicerna oleh akal sehat.

Sebab, terdapat jurang pemisah antara dunia manusia dan alam gaib sehingga siapapun diimbau untuk tidak berambisi memasuki Kota Saranjana.

Gua menuju gerbang gaib Kota Saranjana

Gua menuju gerbang gaib Saranjana (Foto: YouTube/Mif Cungkring)

Burhan menambahkan, kendati kedua alam memiliki beberapa persamaan, kehidupan di alam gaib Saranjana dapat membawa dampak yang sulit diprediksi.

Sejatinya manusia harus memahami bahwa perpindahan antar-dimensi dapat membawa perubahan yang mungkin sulit ditangani, terutama jika seseorang memutuskan untuk tinggal di sana.

"Saya harap jangan sampai kita salah dalam melangkah sehingga kita selalu berusaha bagaimana caranya kita bisa masuk alam sana. Saat nanti kita bisa masuk di sana, tidak bisa pulang ke sini lagi,” kata Burhan.

Sebaiknya kata dia, keberadaan Saranjana disikapi secara bijaksana. Perlu sekadar mengetahui sedikit tentang kehidupan mereka, namun tidak perlu terlampau terobsesi untuk masuk apalagi menjadi penduduk Saranjana.

"Meskipun ada ketertarikan untuk mengetahui lebih banyak, kita harus memahami bahwa kenyataannya tidak semua orang di sana hidup dalam kemewahan," lanjut Burhan.

Penting dipahami lanjut Burhan, bahwa kehidupan di alam Saranjana tidak selalu memberikan jaminan kesuksesan dan kemakmuran bagi setiap individu yang mungkin diundang atau dibawa ke sana.

Seperti satu kisah, ada orang yang dibawa ke Saranjana namun dia tidak mendapatkan posisi atau pekerjaan yang diinginkan.

Sebaliknya, beberapa di antara mereka mungkin menghadapi kondisi seperti menjadi budak atau pelayan, di bawah kekuasaan orang Saranjana.

Ilustrasi Kota Gaib

Ilustrasi kota gaib (Foto: Pxfuel)

Bahkan, biaya hidup di wilayah kerajaan atau di lingkungan orang-orang kaya di Saranjana bisa sangat tinggi, jauh melampaui standar di alam nyata.

Misalnya saja harga es yang biasanya dibenderol Rp5.000 namun di Kota Saranjana akan menjadi sangat mahal yakni Rp50.000 per buah.

Sebelum memutuskan 'bertamu' ke Saranjana, Burhan mengimbau siapapun untuk memertimbangkan aspek-aspek seperti biaya hidup, posisi atau pekerjaan, serta kenyataan pahit di mana yang bersangkutan mungkin tidak akan bisa kembali ke dunia nyata.

Peta Saranjana

(Foto: Salomon Muller)

Sebab, kehidupan di sana mungkin tidak sesuai dengan ekspektasi atau harapan. Oleh karenanya, penting untuk menjaga keseimbangan antara impian dan realitas, serta memastikan bahwa langkah yang diambil dilakukan dengan pertimbangan matang.

"Mari kita jalani hidup di dunia dengan apa yang kita punya, berusaha sebagaimana diperintahkan Allah. Mari kita syukuri apa yang kita punya, jangan sampai berputus asa dari rahmat Tuhan. Kita jangan sampai ingin mencari jalan pintas (kekayaan) dengan memasuki alam lain, seperti Saranjana," pungkasnya.

(Rizka Diputra)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement