SELAMA dua minggu terakhir, militer Israel kembali menargetkan fasilitas kesehatan di wilayah Gaza. Hal ini membuat Rumah Sakit Martir Al Aqsa kekurangan staf medis dalam jumlah yang banyak.
Menurut dokter asal Inggris, Deborah Harrington mengungkapkan ratusan masyarakat Palestina terus berdatangan mencari perlindungan ke rumah sakit. Namun hal ini menjadi kekhawatiran sebab jumlah tim medis tidak sebanding dengan pasien.
Sementara itu, MAP dan Komite Penyelamatan Internasional (IRC) memberikan pernyataan bahwa staf kesehatan dipaksa berhenti melakukan rangkaian kegiatan di RS Al Aqsa. Pasalnya saat ini, keberadaan Pasukan Pertahanan Israel (IDF) diketahui tidak jauh dari rumah sakit, tepatnya hanya sekitar 1,5 km.

“Saat itu, saya dan rekan tim lainnya tengah menjalani operasi terhadap pasien yang mengalami cedera. Namun kami diberitahu untuk segera pergi karena adanya serangan di Unit Perawatan Intensif (ICU) pada Jumat lalu,” ujar Maynard, ahli bedah dan pimpinan MAP, dikutip Jumat (12/1/2024) dari BBC.
Akibat serangan di rumah sakit, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Gaza melaporkan terdapat 57 orang tewas dan 65 orang lainnya mengalami luka-luka. Para dokter asal Inggris pun menceritakan tragedi yang mengerikan saat melakukan operasi di Rumah Sakit Al Aqsa.
“Kami kekurangan pasokan air, tidak ada ruangan yang memadai, bahkan alat operasi juga terbatas,” ucapnya.
Hal itu pun dibenarkan rekannya, dr Smith bahwa tiap pasien yang datang dengan kondisi yang sangat memprihatinkan.