Untuk itu, menurut dokter yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Paru Indonesia harus adanya edukasi kepada masyarakat khususnya remaja, bahwa vape nggak beda jauh sama rokok.
"Remaja memiliki risiko lebih tinggi, karena mereka masih proses tumbuh kembang, ketika lebih dini konsumsi bahan berbahaya tentu akan lebih cepat pula menjadi penyakit dibanding dia konsumsinya lebih terlambat, karena itu jadi warning buat remaja," tuturnya.
Melihat bahaya kesehatan yang mengintai, WHO pun memberi peringatan bahwa perokok perasa harus di stop tidak boleh diedarkan, karena risikonya sama dengan rokok konvensional.
"Dan justru yang disasar para remaja, kalau remaja yang disasar, penyakitnya akan lebih cepat, kan kasihan," kata Prof Agus.
(Leonardus Selwyn)