Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Anak-Anak Gaza Alami Trauma Akibat Serangan Israel, Kini Butuh Bantuan Psikologis

Devi Ari Rahmadhani , Jurnalis-Kamis, 23 November 2023 |07:00 WIB
Anak-Anak Gaza Alami Trauma Akibat Serangan Israel, Kini Butuh Bantuan Psikologis
Perang Israel dan Palestina. (Foto: Freepik.com)
A
A
A

SERANGAN Israel pada Palestina yang tiada henti memberikan trauma mendalam bagi anak-anak. Mereka harus mendengar suara ledakkan bom setiap waktu, melihat jasad, bahkan harus merelakan kepergian anggota keluarganya. Hal ini tentu mengganggu psikis mereka.

Untuk itu, di tengah sibuknya Rumah Sakit Al-Shifa untuk mengevakuasi korban luka akibat serangan Israel, psikolog Mohamed Abushawish telah membuat ruang untuk memberikan bantuan psikologis dini kepada anak-anak yang mencari perlindungan di sana.

Abushawish menyediakan aktivitas untuk anak-anak di lorong rumah sakit dan ruang terbuka. Dengan takut, anak-anak terlihat ragu untuk bergabung ke lingkaran aktif yang diorganisir oleh Abushawish. Namun, dengan lembut Abushawish mengundang mereka untuk masuk.

Di antara mereka, Hamsa Irshi yang berusia 10 tahun datang dengan senyum cerah. Dirinya bertepuk tangan bersama anak-anak lain di lingkaran. Di balik kebahagiaannya itu, ternyata ada luka mendalam di dalam lubuk hatinya. Hamsa bercerita kepada Al Jazeera kisah kepergian keluarganya dari rumah mereka di lingkungan al-Daraj di timur Kota Gaza.

“Jumat lalu, ibu dan tiga saudara saya menemani saya ke rumah paman saya di Deir el-Balah. Namun, pada malam yang sama, serangan udara Israel menargetkan rumah paman saya, menewaskan seluruh keluarga mereka," ucap Hamsa, dikutip dari Al Jazeera, Selasa (21/11/2023).

Perang Israel dan Palestina

Sejenak Hamsa menahan tangisnya, lalu melanjutkan ucapannya.

“Kami berada di ruangan yang agak jauh dari serangan langsung. Ibu saya menderita luka ringan, dan mereka berhasil menyelamatkan kami dari bawah reruntuhan,” tuturnya.

Dari orang-orang yang berada di rumah pamannya malam itu, hanya ibunya, tiga saudara laki-lakinya, dan dua sepupunya yang selamat dari pengeboman tersebut. Ketiga pamannya serta keluarga telah terbunuh. Ayah Hamsa dan saudara-saudaranya yang lain masih berada di Kota Gaza.

Keadaan tersebut tentu menyisakan trauma untuknya. Segala ketakutannya itu dia curahkan kala hadir mengikuti acara dukungan mental yang dibuat oleh Abushawish. Hamsa menyampaikan, dirinya sangat takut terhadap perang dan ingin kejadian ini berakhir. Kini, dirinya masih terus dihantui rasa tidak aman.

Di samping itu, ada juga Anas al-Mansi yang berusia 12 tahun yang mengaku awalnya tidak tertarik dengan kegiatan anak-anak itu. Dirinya mengaku tidak memiliki keinginan untuk melakukan apapun setela kehilangan ayah dan bibinya secara tragis akibat serangan udara di rumah mereka di Deir el-Balah seminggu lalu.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement