SINGAPURA kini telah dilanda wabah kutu busuk. Hal ini diketahui berdasarkan laporan yang terus berdatangan dari beberapa perusahaan pengendali hama di negara tersebut.
Manajer penjualan perusahaan Aardwolf Pestkare, Pierce Chan, menyebut, peningkatan kasus ini diprediksi mencapai 20 hingga 30 persen di kuartal pertama 2024 jelang musim liburan. Saat ini, kasus ini sendiri telah meningkat sekitar 40 persen.
Hal senada juga diungkapkan oleh ahli entomologi di perusahaan Pestbusters Joachim Lee. Dia mengungkapkan bahwa dalam kurun waktu enam bulan terakhir terdapat peningkatan yang drastis terkait kasus kutu busuk ini.
“Jumlahnya terus meningkat dan saya menduga jumlahnya mungkin masih sedikit meningkat, karena musim liburan sudah dekat," ujar Lee, dilansir dari Channel News Asia, Jumat, (17/11/2023).

Aardwolf dan Pestbusters sebagai perusahan pengendalian hama sendiri saat ini telah mengerahkan berbagai cara untuk mengatasi serangan kutu busuk.
Mulai dari memeriksa tempat-tempat seperti retakan pada lantai parket, sandaran kepala, dan bahkan batang kabel serta titik listrik. Lemari, sofa, dan laci juga merupakan tempat umum di mana kutu busuk bersembunyi.
Mr Chan melanjutkan, untuk pengobatan kimia, bahan kimia disemprotkan di tempat-tempat yang banyak terdapat infestasi dan daerah yang berpotensi menjadi sarang. Menurutnya, sisa dari semprotan kimia tersebut juga bisa turut membasmi telur kutu busuk yang tersisa di sekitar.
Perusahaannya menyimpan stok semprotan kimia yang dapat bertahan hingga enam bulan untuk memastikan ada cukup pasokan jika terjadi lonjakan kasus. Dia mencatat, pada 2014 terjadi lonjakan. Pada saat itu, terdapat 20 hingga 30 kasus dalam sebulan dibandingkan dengan kurang dari 10 kasus dalam sebulan.