MUNTILAN kini menjadi sorotan setelah disebut sebagai ‘Kota M’ dalam serial Gadis Kretek. Muntilan menjadi latar Gadis Kretek yang diadopsi dari novel karya Ratih Kumala. Terletak di selatan Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, kecamatan Muntilan memiliki 1 kelurahan, 13 desa, dan 128 dusun.
Melansir laman kecamatanmuntilan.magelangkab.go.id, daerah ini mempunyai sejarah yang panjang. Meskipun asal-usulnya tidak diketahui, namun prasasti Canggal yang berangka 732 menjadi bukti tertua adanya kehidupan sosial di daerah ini.
Daerah in telah dihuni sejak akhir abad VIII atau di masa pemerintahan Kerajaan Mataram Hindu. Hal ini dibuktikan dari keberadaan sejumlah candi besar seperti candi Ngawen, Borobudur, Mendut, dan Pawon.
Hal serupa juga berlangsung di bawah kerajaan Mataram Islam saat Muntilan menjadi bagian dari Negara agung (overzichtkaart). Menurut perjanjian Giyanti 1755, daerah Kedu yang mencakup Muntilan diduga masuk ke wilayah Negara Agung karena kedekatan sejarahnya dengan pusat kekuasaan Yogyakarta.
BACA JUGA:
Kedekatan ini dibuktikan dengan adanya makam seorang bangsawan Kraton Yogyakarta di desa Gunung Pring dan dijadikan sebagai tokoh penting oleh masyarakat sekitarnya. Pada tahun 1812, wilayah Kedu termasuk Muntilan diserahkan kepada pemerintahan Inggris karena kontrak politik antara Kesultanan Yogyakarta dan pemerintah Inggris..
Pada tahun 1813 pemerintah Inggris menjadikan Muntilan bagian dari Kabupaten Malang di bawah pimpinan bupati pertama Raden Tumenggung Danuningrat I. Muntilan kemudian dijadikan daerah administratif setingkat distrik yang dipimpin oleh Wedana yang bermarkas di Probolinggo (desa timur di Muntilan saat ini).

Serial Gadis Kretek
Pada tahun 1822, Probolinggo dijadikan sebagai Kabupaten sendiri dengan bupatinya berkedudukan di Muntilan. Pada tahun 1832, Muntilan menjadi ibu kota distrik setelah penghapusan Kabupaten Probolinggo.
Selama era Kultuurstelsel, Muntilan menjadi pusat penanaman tebu untuk pabrik gula swasta yang dibuka di wilayah Yogyakarta.
BACA JUGA:
Pertumbuhan sosial dan ekonomi Muntilan terus berkembang. Pada awal tahun 1970-an, didirikan Klenteng bagi komunitas Tionghoa. Muntilan juga menjadi jalur kereta api dari Yogyakarta ke Magelang pada akhir tahun 1895.
Kemajuan yang pesat Muntilan ini mendorong pemerintah Belanda mempertimbangkan status administrasinya. Pada 1 Agustus 1901, Muntilan dijadikan ibu kota distrik atau kawedanan Muntilan menggantikan Probolinggo.
Pada tahun 1942 di masa pendudukan Jepang, Muntilan berada di bawah pimpinan Letnan Suchiara. Setelah proklamasi kemerdekan, Muntilan menjadi saksi peristiwa revolusi, termasuk insiden berdarah dan kehadiran kesatuan gerilya RI.
(Salman Mardira)